Menakar Urgensi Sayembara Sastra
Oleh: Yusri Fajar
(Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya Malang)
Di tengah geliat sastra di tanah air, sayembara sastra merupakan salah satu upaya penting untuk meningkatkan, memacu dan menghargai kreativitas sastrawan. Terminologi lain yang biasa digunakan dalam kegiatan semacam ini adalah lomba penulisan karya sastra. Sayembara sastra akan sangat ditentukan oleh peran dewan juri, kualitas karya sastra dari peserta, sosialisasi karya tersebut beserta kritiknya, dan kegiatan pasca lomba seperti pelaksanaan lokakarya dan pembentukan jaringan sastrawan.
Jangan sampai sebuah sayembara sastra hanya menjadi rutinitas atau ‘ritual’ untuk sekedar menjaga prestise dan memompa denyut nadi sastra secara temporal tanpa memperhatikan tujuan mendasar dan jangka panjang sayembara yang bermuara pada peningkatan kreativitas sastrawan, budaya baca, dan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra dan sastrawan. Kesadaran akan pentingnya penghargaan terhadap para sastrawan dan kontinyuitas revitalisasi sastra, akan menjadikan diseminasi nilai-nilai universal sastra dan pemberdayaan peran sastrawan dalam perubahan bisa dilangsungkan.
Sayembara sastra selain berpeluang menghasilkan karya-karya berkualitas juga berpotensi menjadi media kelahiran para sastrawan muda yang penuh talenta. Hal ini tidak berarti bahwa eksistensi dan kreativitas para sastrawan tua dinegasikan dan dilupakan, namun upaya regenerasi sastrawan sangat diperlukan. Para sastrawan muda perlu muncul dan ‘dimunculkan’ karena kelak mereka akan meneruskan kiprah dari para sastrawan pendahulunya. Di tanah air telah banyak lahir para sastrawan muda berbakat, seperti Raudal Tanjung Banua, Mashuri, Sunlie Thomas Alexander, Indra Tjahyadi, Dewi Sartika, Alex R. Naigolan, Abidah El Khaliqy, Ratih Kumala, Dianing Widya Yudistira, Nenden Lilis A, dan masih banyak lagi.
Dalam sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006 yang pemenangnya diumumkan pada tanggal 9 Maret 2007 misalnya, pemenang satu adalah Mashuri, sastrawan muda kelahiran Lamongan, 2 April 1976, dengan novelnya Hubbu yang kini telah di terbitkan oleh Gramedia. Sementara pemenang sayembara novel DKJ periode sebelumnya adalah Dewi Sartika, sastrawan dari Bandung kelahiran 27 Desember 1980, dengan novelnya Dadaisme. Hal ini menjadi bukti bahwa kreativitas sastrawan muda patut diperhitungkan dan diapresiasi. Jumlah peserta sayembara sastra yang cenderung mengalami peningkatan, menunjukkan produktivitas dan antusiasme para sastrawan. Sayembara novel DKJ tahun 2006 diikuti 249 novel. Padahal periode sebelumnya hanya diikuti oleh 75 peserta.
Sayembara sastra adalah perhelatan yang melibatkan dewan juri. Biasanya panitia dan dewan juri dalam proses kerjanya dari awal sampai akhir menegaskan bahwa “keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat”. Artinya dewan juri diberi hak ‘prerogatif’ untuk memilih para pemenang dan nomine. Keputusan pemenang bersifat final dan harus diterima meskipun pada gilirannya sebuah karya yang dinyatakan menjadi pemenang oleh dewan juri, menurut kritikus sastra dan sastrawan lainnya bisa dinilai tidak layak menjadi pemenang. Hal ini tidak terlepas dari selera, kecenderungan terhadap gaya dan perbedaan paradigma penilaian atas karya.
Terlepas dari unsur subjektifitas, penjurian tetap bisa diupayakan objektif dengan berpatokan pada kaidah-kaidah universal mutu karya sastra yang diyakini dan disepakati. Lebih jauh panitia biasanya akan memilih dewan juri yang tepat dan layak di bidangnya. Misalnya untuk sayembara novel, novelis dengan reputasi tinggi dan sudah diakui akan ditunjuk menjadi juri. Demikian juga juri untuk cerita pendek, puisi dan sayembara penulisan naskah drama. Sementara panitia, dalam upaya mengedepankan objektifitas, bisa menghapus atau menghilangkan nama para pengarang pada saat penjurian berlangsung.
Hal penting dan mendasar di balik proses punjurian dan pengumuman pemenang sayembara, sebagaimana dikemukan di awal tulisan ini, adalah sosialisasi karya peserta beserta kritiknya melalui publikasi secara luas. Seringkali kritik dan analisis karya peserta sayembara tidak dilakukan menyeluruh dan memadai bahkan tidak dipublikasikan secara terbuka sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui karya-karya peserta sayembara, dan latar belakang kenapa sebuah karya dipilih menjadi pemenang dan kenapa yang lain tidak.
Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan karya-karya yang mengikuti sayembara, tantangan dan peluang yang akan dihadapi oleh para pengarang tersebut akan bisa dirumuskan. Dengan begitu, pengarang akan terus mengasah kemampuan untuk meningkatkan kualitas karyanya. Ulasan berbobot atas unsur intrinsik maupun ekstrinsik karya akan semakin menguatkan ranah kesusastraan dan memberi masukan berharga bagi pengarang dan masyarakat penikmat sastra. Apresiasi pasca sayembara dipandang penting untuk mengetahui proses kreatif dan isi karya dari para peserta yang pasti memiliki latar sosiologis dan struktur teks yang berbeda. Dengan demikian, kritik sastra akan berkembang dan dan wacana atas ratusan karya peserta sayembara akan semakin besar. Selain itu, lokakarya yang mempertemukan peserta sayembara dan dewan juri bisa dilakukan sebagai media diskusi, tukar pendapat, ajang saling belajar dan pembentukan jaringan (komunitas).
Sayembara sastra diharapkan bisa menjadi salah satu media untuk memacu denyut sastra di tanah air. Sayembara yang dikelola dengan baik dan objektif dengan selalu mengedepankan eksplorasi mutu karya diharapkan dapat memacu sastrawan muda untuk terus bereksplorasi sehingga gelombang proses kreatif dalam jagad kesusastraan di hari depan akan berkesinambungan.