Memaknai Peradaban Bangsa dan Dunia

Sampeyan Iso (Anda Bisa) Bahasa Inggris

Sampeyan  Iso (anda bisa) Bahasa Inggris?

 

“Good Morning, selamat pagi

Klambi (baju) kuning menarik hati…….”

(Kutipan lirik salah satu lagu kendang Kempul Banyuwangi)

 

Saya masih ingat betul lirik salah satu lagu “Kendang Kempul (musik tradisional daerah Banyuwangi yang awalnya bertumpu pada alat musik kendang dan kempul-kini musik ini sudah dipadu dengan alat musik modern)” yang saya kutip di atas. Waktu saya kecil (saat itu sekitar tahun 80 an) lagu tersebut sering diputar di beberapa stasiun radio lokal di Banyuwangi. Dari lirik di atas tampaknya sang pencipta lirik menyadari posisi ‘bahasa Inggris’ yang tengah popular di Indonesia sehingga dia tak segan untuk memasukkan frasa ‘good morning’. Popularitas bahasa yang akar-nya dari bahasa Anglo-Saxon yang di bawa oleh beberapa suku Jerman bagian utara yang melakukan ekspansi ke daratan Inggris ini, bisa dilihat dalam berbagai bidang mulai pendidikan sampai ekonomi. Saya yang masih duduk di bangku SD, saat itu, dengan cepat tahu bahwa ‘Good Morning’ itu artinya ‘selamat pagi’ meskipun saya belum mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Beberapa group musik Indonesia ternama yang tengah naik daun juga tak segan menyelipkan lagu dengan lirik bahasa Inggris, seperti Letto dan Dhewa 19. Tentu saja mereka sadar bahwa ‘pangsa pasar’ mereka yang mayoritas generasi muda juga tidak asing dengan bahasa Inggris.

 

Masih berkaitan dengan eksistensi Bahasa Inggris, saya punya cerita lain lagi. Suatu hari tetangga rumah di kampung saya di Banyuwangi yang baru menginjak kelas satu SMP berbicara sedikit kencang waktu melintas di depan rumah saya sambil sedikit tersenyum, “Ayam Iksan”. Saya balik tanya “Ayam Iksan kenapa?”. Dia bilang, “Bukan soal ‘ayam’ yang biasa kita makan, tapi ‘ayam’ yang saya maksud adalah bahasa Inggris yang artinya ‘aku atau saya’. Oh, belakangan saya baru tahu bahwa ‘Ayam’ yang dia maksud adalah frase “I am” yang pada saat itu dia ucapkan mirip dengan kata “A-yam”. Memasuki era yang kata banyak orang adalah era ‘global’ dan ‘perdagangan bebas’ dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ‘global’nya, bahasa Inggris tidak hanya diajarkan sejak SMP tapi juga di ‘Play Group’ dan taman Kanak-Kanak. Bahasa dengan ‘active barriers’ yang mayoritas orang kulit putih ini menjadi tidak lagi asing di telinga anak-anak kecil. Dan ini tidak terjadi di Indonesia saja tetapi juga di berbagai Negara di berbagai benua.

 

Bagi bahasa lokal tentu saja bahasa global menjadi pesaing berat. Bahkan ada yang menyebut bahasa Inggris sebagai ‘ a killing language’. Orang tua dari suku Jawa (contoh saja-bisa juga dari suku lainnya) barangkali kemudian berada dalam posisi ‘in-between’. Di satu sisi mereka bangga anak mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus yang dengannya si anak bisa andil dalam percaturan global yang highly competitive, sementara di sisi lain mereka merasa sedih karena si anak tidak lagi bisa berbahasa Jawa dengan baik, atau bahkan tidak bisa sama sekali. Seorang penutur asli bahasa Bali sekaligus budayawan Bali barangkali juga senang sekali melihat anak-anak Bali mampu berbahasa Inggris dengan baik karena dengan begitu mereka dapat memperkenalkan budaya Bali pada wisatawan. Di sisi lain si budayawan ini juga mungkin sedih dan marah melihat bahasa Bali ke depan terancam punah atau mati karena penuturnya yang semakin sedikit dan peminatnya yang berkurang.

 

 

Banyak lembaga pendidikan dan ekonomi, serta berbagai instansi, mewajibkan dan mensyarakatkan kemampuan Bahasa Inggris bagi mereka yang ingin ‘masuk’ di dalamnya. Banyak teman saya yang gagal studi lanjut karena kemampuan bahasa Inggris mereka dinilai kurang. Bahasa Inggris ‘benar-benar superior’ dibanding dengan bahasa lainnya yang lalu –karena konstruksi global- menyandang ‘cap’ inferior, marjinal, tak layak jual dan ‘ketinggalan jaman. Berbagai Universitas lainnya di Indonesia sudah mewajibkan mahasiswa yang akan segera lulus dan diwisuda untuk memiliki Skor Toefl yang nilai standarnya sudah ditentukan. Banyak mahasiswa dan para pendidik yang protes karena menganggap ini memberatkan dan kebijakannya ‘sedikit berbau represif’ meski mahasiswa dan para pendidik lain ada yang seratus persen setuju dengan alasan untuk lebih mudah mendapatkan perkerjaan dan ‘lebih siap’ masuk era global yang semakin katanya semakin ‘edan’. Yen ora edan ora keduman (kalau tidak ikut ‘edan’ tidak mendapatkan bagian)

 

Lalu, apakah dominasi Bahasa Inggris sebagai bahasa Global bisa berakhir? Apa yang memungkinkan terjadinya perubahan dominasi bahasa: dari Bahasa Inggris ke Bahasa lainnya, misalnya Cina, Arab, Jerman, melayu, dan sebagainya?

 

Dominasi Politik/Militer dan Ekonomi

sebagai Pendulum Penyebaran Bahasa

 

Posisi bahasa tidak bisa dilepaskan dari dominasi politik, militer dan ekonomi. Sebagaimana disampaikan oleh David Crystal (2003), bahwa sebuah bahasa menjadi bahasa internasional karena satu faktor yang relatif sama sepanjang sejarahnya: kekuatan dari para penuturnya, khususnya politik dan militer. Kenapa Yunani menjadi bahasa internasional di daratan ‘middle east’ 2000 tahun yang lalu? Tentu tidak disebabkan oleh para filosofnya seperti Aristoteles dan Plato tetapi jawabannya lebih terkait dengan kekuatan pasukan Alexander Agung yang melakukan penaklukan di beberapa bangsa lain. Lalu kenapa Bahasa Latin begitu dikenal di daratan Eropa waktu dulu? Kita bisa telusuri kekuasaan kekaisaran romawi yang begitu kuat dan disegani. Dan kenapa bahasa Spanyol, portugis, dan prancis menyebar ke Amerika Latin dan Afrika. Kita bisa pelajari bagaimana kebijakan bangsa-bangsa penjajah ini, dengan kekuatan bala tentaranya, menanamkan pengaruh politik, budaya, termasuk bahasa, ke wilayah-wilayah itu. Inggris juga bisa kita masukkan dalam kategori negara yang juga dengan politik imperalisnya berhasil menanamkan bahasa di negera-negara bekas jajahannya.

 

Namun, diskursus dominasi bahasa juga tidak bisa dilepaskan dari dominasi Ekonomi. Di abad 19 dan 20 dominasi ekonomi secara global disebarkan melalui jaringan teknologi-komunikasi, dan berbagai organisasi multinasional yang banyak terlihat menjadi corong ‘negara super power’. Beberapa dekade terakhir kita bisa menyebut Amerika sebagai negara superpower yang mampu membuat banyak negara lain di dunia bergantung kepadanya. Di akhir abad 19 populasi di Amerika telah mendekati 100 juta yang tentu saja lebih besar dari negara manapun di eropa barat. Ekonomi Amerika berkembang paling cepat dan produktif. Sampai akhirnya banyak transaksi internasional yang mengacu pada nilai tukar dolar Amerika. Sekutu Amerika paling setia sampai kini tentu saja Inggris yang nilai tukar mata uangnya tertinggi di dunia. Inggris di awal-awal abad 19 telah menjadi negara industri papan atas di dunia.

 

Inggris dan Amerika tak pernah henti memberikan dukungan, terutama begitu kentara pada soal agresi militer Amerika ke Irak. Perdagangan dunia begitu dipengaruhi oleh Amerika sehingga banyak negara-negara berkembang sangat bergantung pada Amerika, termasuk Indonesia. Secara politik posisi Amerika boleh dibilang di atas angin. Kebijakan-kebijakan PBB selalu tak bisa lepas dari dominasi dan kepentingan negara kapitalis ini. Hak veto ‘secara informal’ seakan-akan hanya menjadi milik Amerika yang begitu menentukan berbagai keputusan.

 

Dominasi Amerika dan Inggris sebagai negara ‘inner circle’ pengguna bahasa Inggris menjadi faktor penting yang membuat bahasa Inggris menjadi bahasa global. Dominasi ini kemudian mendapatkan dukungan dari sektor lain seperti pendidikan. Kiblat pendidikan tertuju pada Inggris dan Amerika yang dianggap memiliki sistem pendidikan, sarana dan prasarana serta domain ilmu pengetahuan yang berada di atas lembaga pendidikan di negara-negara lainnya. Dengan dukungan kekuatan ekonomi, dua negara ini berhasil menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui medium bahasa Inggris ke berbagai penjuru dunia. Referensi-referensi penting ‘kelas dunia’ mayoritas terekam dalam berbagai buku bahasa Inggris. Berbagai karya sastra dunia ditulis dalam bahasa Inggris atau kalau penulisnya menulis dalam bahasa lain maka karya itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris agar bisa ‘go internasional’. Transaksi-transaksi perdagangan internasional , diplomasi, forum-forum internasional juga dilakukan dengan bahasa Inggris. Apa boleh buat, masyarakat dunia memang sedang (terpaksa) mengarahkan ‘kiblat’ nya ke negara yang begitu dominan dalam kebijakan politik dan ekonomi ini. Muncul kemudian anggapan yang mengkonstruksi sebagian besar masyarakat dunia bahwa ‘dengan menguasai bahasa Inggris, seseorang bisa turut andil dalam percaturan global!’, ‘bahasa Inggris menjadi kunci mengenal cakrawala dan horison dunia’, dan sebagainya.

 

Agen-agen ‘bahasa Inggris’ dengan jaringan internasionalnya juga terlihat berhasil menanamkan pengaruh dan membangun eksistensi bahasa ini.  Di Indonesia kita bisa melihat bagaimana Amerika, Inggris, dan Australia bahu-membahu melakukan penyebaran bahasa Inggris melalui lambaga-lembaga kursus, test, dan pendidikan. Tidak hanya mereka yang ingin studi lanjut saja akhirnya yang membutuhkan nilai TOEFL atau IELTS sebagai ukuran bahwa mereka bisa berbahasa inggris, tetapi juga mereka yang ingin melanjutkan sekolah di dalam negeri, ingin mendapatkan pekerjaan di perusahaan dan lembaga pemerintah, sebagaimana yang sudah sedikit saya singgung di awal tulisan ini. Di negara-negara ‘outer circle’ (di luar Inggris, Amerika, Kanada, Australia, Selandia baru), eksistensi bahasa Inggris tak kalah dominan dan maju. Misalnya seperti di India, Singapura, Kamerun, Nigeria. Di negara-negara lapis ketiga atau ‘expanding circle’ seperti Cina, Rusia, Jerman, eksistensi bahasa Inggris juga semakin berkembang.

 

Sisi Positif dan Negatif Bahasa Global

 

Terlepas dari dominasi bahasa Inggris yang sekarang menjadi bahasa global, secara universal posisi bahasa global, entah itu bahasa Inggris, bahasa Latin dan Bahasa Yunani (yang dulu pernah eksis), bisa ditelaah dari sisi positif dan negatifnya. Hal ini penting untuk memberikan gambaran dan pondasi dalam merespon eksistensi bahasa global.

 

Bahasa global mempunyai nilai positif pada konteks kemungkinannya untuk dijadikan ‘lingua franca’, common language, dalam komunikasi sehingga orang-orang dengan berbagai bahasa Ibu yang berbeda bisa menjalin kerjasama dengan bahasa global ini. Pada kasus konflik yang melibatkan beberapa kelompok masyarakat dengan perbedaan bahasa dan budaya, bahasa global juga bisa digunakan sebagai alternatif alat komunikasi dalam menyelesaikan konflik. Lebih jauh pada tataran penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi ke berbagai penjuru dunia, bahasa global bisa menjadi alat yang sangat efektif.

 

Sementara sisi negatif dari bahasa global, seperti yang sudah sedikit saya singgung di paragraf ke tiga tulisan ini, adalah posisi bahasa ibu yang terancam marjinal dan hilang. Dalam konteks pembelajaran bahasa, eksistensi bahasa global seringkali menurunkan minat dan motivasi seseorang untuk memperlajari bahasa lokal dan bahasa nasional. Sisi-sisi negatif lainnya juga bisa ditambahkan misalnya terkait dengan nasionalime, pelestarian kebudayaan lokal dan nasional, politik nasional dan sebagainya.

 

Bila Dominasi Ekonomi dan Politik Runtuh

 

Bila eksistensi bahasa Inggris sebagai bahasa global sangat dipengaruhi oleh kekuatan Ekonomi, politik dan militer, maka eksistensinya bisa saja digantikan oleh bahasa lain yang dianut oleh negara (atau negara-negara) yang menggantikan dominasi ekonomi ini. Masalahnya tidak mudah memang karena bahasa Inggris sendiri selain menjadi bahasa ibu di negera-negara maju seperti Amerika, Inggris, Kanada, Australia, juga sudah cukup mengakar di berbagai negara. Penutur aktifnya juga begitu besar jumlahnya. Di Indonesia, bila di bandingkan dengan bahasa asing lainnya, bahasa Inggris masih berada di posisi paling atas. Peta kekuatan ekonomi dan politik di dunia menunjukkan pergerakan yang dinamis. Bahkan yang terbaru di berbagai media massa masyarakat dunia bisa membaca dan melihat berita seputar krisis serius di bidang Ekonomi yang melanda Amerika, negara super power yang mempunyai andil sangat besar dalam mengkonstruksi bahasa Inggris sebagai bahasa Global. Apakah bahasa Inggris juga akan mengalami kemunduran seiring ‘keruntuhan Amerika dan sekutunya (entah kapan, segera?), sebagaimana yang dialami bahasa Yunani dan bahasa Latin seiring runtuhnya kekuatan alexander Agung dan kekaisaran Romawi? Jawabnya jelas ‘ya’ karena kemungkinan itu ada. Seorang teman bertanya kepada saya bila kekuatan politik dan ekonomi, misalnya, bergeser dari Amerika ke Cina apakah kemudian anak cucu kita nanti akan belajar bahasa Cina. Saya jawab dengan jelas, ‘bisa saja’. Meskipun dengan sedikit bercanda saya bilang,”Tapi huruf Cina lebih sulit, jadi harus lebih extra belajarnya!”

 

Dan bisa jadi lirik lagu kendang kempul yang saya kutip di awal tulisan dinyanyikan dengan lirik sedikit berbeda:

 

…..Zǎoshanghǎo,selamat pagi

Klambi(baju) kuning menarik hari………

 

Salam dari Bayreuth Bayern,

Yusri Fajar

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.