Apa gerangan yang menarik dari ‘pendirgahayauan’ Indonesia di Frankfurt Jerman bagi saya? Rasa penasaran sudah menyergap saya sedari malam. Di pengumuman yang tertera dalam webiste Konsulat Jenderal republik Indonesia, disarankan bagi warga Indonesia untuk memakai baju batik atau setelan jas pada saat mengikuti upacara yang akan dimulai pukul sepuluh pagi. Saya memilih memakai batik karena saya memang sengaja tidak membawa jas dari Indonesia. Kedua, ‘pawaan’ saya sepertinya juga kurang pas kalau memakai jas, terlihat terlalu ‘mriyayi’. Apalagi di Jerman sudah terlalu banyak orang memakai jas. Para yuppies (eksekutif muda) Frankfurt yang setiap pagi berjejalan dengan saya di kereta bawah tanah tak lepas dari jas mereka.
Bagi saya dengan memilih batik, saya merasa lebih menjadi ‘indonesia’ dari pada memakai jas. Konstruksi ini tentu saja membutuhkan penjelasan lebih lanjut dan bisa berlembar-lembar halaman.
Saya sendiri berusaha memakai baju batik dengan perasaan merdeka. Saya juga meyakinkan diri saya untuk membuang jauh konotasi primordial yang bisa melekat di dalamnya. Mulai dari tempat saya tinggal kemudian melewati beberapa stasiun subway di kota Frankfurt hingga di wisma Konjen, tempat upacara, jiwa merdeka atas batik itu saya jaga dengan seksama. Dan alhamdulillah sesampai di Konjen mayoritas orang indonesia yang datang juga memakai batik. Beberapa hari sebelumnya ketika saya menghadiri pertemuan DAAD di Bonn dengan seluruh penerima beasiswa se-asia tenggara, para pimpinan DAAD langsung bisa mengenali saya dan kawan-kawan dari Indonesia melalui batik yang kami pakai.
Batik bagi kebanyakan orang Indonesia adalah ‘bagian’ dari identitas yang sudah menjadi tradisi sejak lama dan dianggap merepresentasikan ‘keindonesian’. Batik bukan monopoli Jawa karena di indonesia juga di kenal batik dari daerah lainnya meskipun motifnya memang berbeda-beda. Batik telah menjadi simbol universal dari identitas bangsa Indonesia selain berbagai produk seni ‘adi luhung’ lainnya yang juga ‘merepreentasikan’ khasanah budaya indonesia. Mungkin alasan inilah yang mendasari KJRI menganjurkan peserta upacara untuk memakai batik. Saya tidak dalam posisi untuk menginterogasi lebih lanjut apakah KJRI memang jauh berpikir tentang filosofi untuk meminta undangan memkai baju batik. Pada saat acara pentas tari Saman Aceh, setelah upacara, Bapak Konsul bertanya,”Apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia?” Dengan serempak semua peserta yang hadir menjawab,”bangga!” Meskipun setelahnya bapak konsul tidak meneruskan dengan pertanyaan mengapa para hadirin bangga.
Keunikan batik tidak saja menarik orang-orang Indonesia tetapi juga orang-orang di luar Indonesia. Hingga kabarnya ada berupaya mempatenkan hak paten batik di negaranya. Ini tentu jadi masalah karena batik adalah karya seni asli Indonesia yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Walter Benjamin, salah satu tokoh mahdzab Frankfurt, menyatakan bahwa keunikan sebuah produk seni akan ada dalam ruang dan waktu ketika karya itu masih memancarkan keunikannya dan mendapatkan ‘pengakuan’. Batik lebih jauh telah menjadi semacam ‘representasi’ dari entitas di balik batik itu sendiri. Ia mengacu pada ‘peradaban’ yang tentu awalnya tidak mudah untuk dilahirkan.
Profesesor Stuart Hall dari Open Univesity of London bahwa ‘common idea’ dari representation adalah to present, to image, to depict dari makna dari entitas yang direpresentasikan. Namun sebenarnya ‘representasi’ pada pemahaman yang lebih kompleks, menurut Hall, bisa lebih dari itu terutama ketika terkait dengan distorsi dari apa yang seharusnya direpresentasikannya. Media yang digunakan untuk merepresantikan dan apa yang dipresentasikan pada gilirannya bisa menjadi dua entitas yang berbinari oposisi. Dan soal baju batik memang bukan semata terkait dengan ‘karya seni dari benang yang dirajut menjadi kain lalu di situ ditorehkan gambar-gambar unik khas Indonesia’ itu, tetapi juga terkait dengan manusia Indonesia yang memakainya dan mereka justru akan menjadi media penting dalam memaknai ‘semangat, tingkah laku dan sikap’ di balik ‘baju’ batik itu.
Selain masalah batik, hal lain yang juga menarik untuk dicermati ketika peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di frankfurt adalah berbagai makanan khas Indonesia yang disajikan, seperti ‘grontol’ (jagung muda direbus yang sudah dipisah dari batangnya dan lalu ditaburi dengan parutan kelapa muda dicampur gula dan sedikit garam) dan juga ‘Klepon’ (jajanan bulat kecil-kecil terbuat dari tepung, berwarna hijau, dan di dalamnya terdapat gula kelapa berwarna cokelat). Di hadapan para hadirin yang datang, yang tidak hanya warga negara Indonesia, tentu saja makanan itu bisa menjadi media ‘resistensi’ dan eksistensi Indonesia karena keunikan makanan tersebut bisa terkait dengan akar sejarah, kolonialisme, agama dan budaya lokal rakyat. Rasa dari makanan khas indonesia ini melambangkan ‘otentisitas’ dan juga ‘indigousness’ yang menarik untuk digali lebih jauh dari sudut pandang post-kolonial misalnya.
Apa yang bagi orang-orang non indonesia dianggap tidak ada dan tidak didapatkan di negaranya, terkait makanan tadi, berarti menjadi bagian dari ‘adanya’ Indonesia. Claude Levi-Strauss menyatakan bahwa kita bisa menemukan latar-latar khusus terkait bagaimana makanan masyarakat tertentu bisa menjadi penanda dari kode-kode budayanya. Di kota jajanan tradisional sudah tergeser oleh keberadaan jajanan modern yang dipenuhi keju dan cokelat. Tapi di pasar-pasar tradisional yang masih eksis di desa-desa atau kota kecamatan, jajanan seperti grontol dan klepon masih menjadi idola masyarakat. Konsumsi atas grontol dan klepon yang kalau di daerah-daerah pelosok indonesia memberikan semangat hidup dan bantuan materi kepada mereka yang memproduksi jajanan tersebut, karena banyak dari mereka yang bergantung dari jualan jajanan tersebut. Metamorfosis kultural dan lidah kita dari grontol, klepon ke jajanan modern dan ‘beranak pinak’ dari barat tentu adalah bagian dari gelombang pasar bebas yang tak terelelakkan. Ketika hal ini nanti sudah menjadi budaya tentu saja, klepon, grondol dan semacamnya lambat laun pasti semakin terpinggirkan. Atau nasibnya akan seperti produk seni yang masuk dalam komodifikasi global dan terkapar dalam berbagai seremoni-seremoni artifisial belaka.
Di negeri yang pernah terpecah menjadi dua (Jerman barat dan jerman timur), orang-orang Indoneia yang datang tak segan untuk menyantap klepon dan grontol. Bagi mereka tentu selain makanan tersebut jarang didapatkan di Jerman namun juga rasanya memang cocok dengan lidah mereka. Sementara pengakuan akan kelezatan suatu makanan khas suatu bangsa oleh orang-orang dari luar bangsa tersebut merupakan suatu kehormatan sekaligus ‘legitimitasi’ dari peradabannya. Pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh negara-negara di dunia menjadi ‘resource’ penting dalam menghapuskan penjajahan dari bumi Indonesia, baik itu penjajahan dengan senjata dan kekuasaan, maupun penjajahan melalui penetrasi budaya. Batik sekilas adalah soal pakaian, grondol dan klepon adalah soal makanan. Mungkin tak semenarik politik dan isu-isu nasional lainnya. Namun sebenarnya di balik semuanya terselip makna yang bersinergi dengan gerak peradaban di Indonesia. Saya coba makan satu buah klepon yang diedarkan oleh ibu-ibu di konjen. Ketika saya gigit, ada yang terasa manis, dan itu cukup mengobati rasa ‘pahit’ ketika saya harus jauh dari kampung halaman ‘Indonesia’.
Dirgahayu Republik Indonesia!
Merdeka,
Salam dari frankfurt, 17 Agustus 2008
Yusri Fajar
Comments on: "Kemerdekaan ‘batik’,Nasionalisme ‘Klepon’, dan Kebangsaan ‘Grontol’." (2)
Wah, padahal tadi saya baru berpikir akan membuat klepon saat perkuliahan terakhir sebelum natal. Tadi kami sepakat akan membawa makanan tradisional negara masing-masing. Alasan saya: buatnya gampang dan cepat. Dan tepung ketan yang dibulat-bulat di dalamnya diisi gula merah dibalur parutan kelapa itu buat orang Jerman terasa sangat eksotis dan menimbulkan sensasi yang entah apa (minimal itu yang dikemukakan murid-murid kelas bahasa Indonesia saya dulu dan klepon jadi makanan favorit mereka). Untuk saya, rasa manis di dalamnya memberikan efek kejut yang menyenangkan. Itu rasa Indonesia. Penuh kejutan. Sepahit apapun, entah kenapa manis terasa apalagi jika berjarak seperti ini. Dan klepon untuk saya juga adalah bunyi dengung yang khas dari kompor yang di atasnya dipasang kaleng bekas berisi air, diberi lubang, dimampatkan oleh bambu, dibawa-bawa oleh seorang lelaku tua yang berjalan kaki kemana-mana saat malam-malam dingin di Bandung. Menjual putu dan klepon seharga 500 rupiah. Saya biasa beli 10. Dan itu sudah membuatnya tersenyum senang.
Eh, kok jadi komentar panjang di sini, ya. Hehe. Maafkan. Saya hanya senang membaca tulisan-tulisan Mas Yusri. Mohon ijin dilink di blog saya, ya, Mas. Terima kasih untuk tulisan-tulisannya.
Ya Mbak Dian, jajanan tradisional Indonesia mestinya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari negara lain. Saya malah baru tahu kalau di Bandung ternyata juga ada klepon, berarti jajan khas rakyat yang waktu saya kecil mudah sekali didapatkan di pasar, memang telah menjadi bagian budaya di berbagai daerah di Indonesia. Kalau di Jawa Timur, pusat klepon ada di daerah Mojokerto dan Sidoarjo. Ada banyak penjual klepon di warung-warung semi permanen yang memanjang di pinggiran jalan di dua kota itu. Kalau lewat biasanya saya mampir untuk beli.
Bagi orang Jerman tentu klepon adalah jajanan yang akan membuat lidah mereka bisa merasakan sesuatu yang berbeda sama sekali, terutama jika dibandingkan dengan jajanan ala Jerman yang kebanyakan roti dan manisan. Kapan nih jadinya buat kleponnya he he he?