<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Sastra dan Budaya-Yusri Fajar</title>
	<atom:link href="http://jiwasusastra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jiwasusastra.wordpress.com</link>
	<description>Memaknai Peradaban Bangsa dan Dunia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Aug 2011 08:23:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jiwasusastra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lentera Sastra dan Budaya-Yusri Fajar</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jiwasusastra.wordpress.com/osd.xml" title="Lentera Sastra dan Budaya-Yusri Fajar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jiwasusastra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2010/01/01/menjadi-jawa-dalam-hibriditas-budaya/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2010/01/01/menjadi-jawa-dalam-hibriditas-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 18:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/2010/01/01/menjadi-jawa-dalam-hibriditas-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari ada seorang politisi yang dinilai ‘melecehkan’ etnis tertentu. Politisi yang mulai dikenal dengan gaya santun ini, tiba-tiba tampak sedikit emosional ketika berdebat di Televisi. Kesantunan yang oleh beberapa pengamat dinilai sebagai upaya untuk melakukan ‘penetrasi’ ke lingkaran hegemoni politik Jawa dalam partai dimana dia berada, tiba-tiba berubah menjadi ungkapan kemarahan yang bersifat menyerang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=83&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari ada seorang politisi yang dinilai ‘melecehkan’ etnis tertentu. Politisi yang mulai dikenal dengan gaya santun ini, tiba-tiba tampak sedikit emosional ketika berdebat di Televisi. Kesantunan yang oleh beberapa pengamat dinilai sebagai upaya untuk melakukan ‘penetrasi’ ke lingkaran hegemoni politik Jawa dalam partai dimana dia berada, tiba-tiba berubah menjadi ungkapan kemarahan yang bersifat menyerang, mirip ‘preman’. Hibriditas identitas budaya dalam diri seorang politisi dengan latar etnis tertentu pada dasarnya memang tak bisa dielakkan dalam masyarakat multikultural. Setiap orang yang melakukan ‘migrasi’ dalam suatu entitas budaya yang berbeda dengan yang dia anut, biasanya orang tersebut akan melakukan &#8216;negosiasi&#8217; dan adaptasi. Orang-luar Jawa yang melakukan migrasi ke Jakarta atau di kota-kota besar di Jawa, di mana dominasi orang Jawa masih sangat kuat, melakukan kompromi-kompromi untuk mendapatkan &#8216;resepsi&#8217; yang memadai. Dengan melakukan kompromi dengan budaya Jawa orang-orang luar Jawa berharap bisa eksis. </p>
<p>Dalam hibriditas identitas, biasanya identitas lama tak akan mudah begitu saja hilang, meskipun identitas budaya baru akan kuat mempengaruhi. Di sinilah kemudian terjadi apa yang disebut oleh Homi Bhaba (2001) sebagai ambiguitas identitas yang membawa seseorang dalam posisi &#8216;in-between&#8217; alias “di tengah-tengah”. Jangankan seorang politisi dari luar Jawa yang berkiprah di Jawa, Para politisi Jawa sendiri dari wilayah antropologis budaya Jawa Mataraman&#8211;kalau di Jawa Timur wilayah Ponorogo, Pacitan, Trenggalek bisa menjadi contoh&#8211; misalnya, akan mengalami hibriditas identitas ketika mereka melakukan urbanisasi ke Jakarta, kota hibrid, kota metropolis yang menjadi &#8216;imaji&#8217; dan &#8216;mimpi&#8217; orang-orang dari wilayah &#8216;pinggiran&#8217; (periphery). Banyak orang-orang &#8216;Jawa&#8217; yang melakukan perpindahan ke kota besar seperti Jakarta kehilangan &#8216;kejawaannya&#8217;. Hibriditas identitas ini juga seringkali menghasilkan &#8216;kelucuan-kelucuan&#8217; yang kadang menggelikan. Kita bisa melihat misalnya seorang Jawa dengan intonasi Jawanya yang khas berusaha mempraktekkan dialek betawi atau &#8216;jakarte&#8217; dengan tujuan agar dia terlihat modern dan dipandang sebagai &#8216;orang jakarte&#8217;. Contoh hibriditas yang tak kalah menarik adalah seorang rocker dengan tato dan pakaian ala Rocker yang &#8216;westernized&#8217; sekali, tetapi karena dia dari jawa mataraman tulen, dia masih selalu merundukkan kepala dan membungkukkan badannya secara ritmis ketika dia bertemu dengan orang sambil bilang misalnya &#8216;matur nuwun&#8217;. Sebuah anggukan ritmis dan ekspresi terima kasih khas Jawa.</p>
<p>Saya justru melihat upaya seorang politisi luar Jawa untuk menjadi &#8216;njawani&#8217; adalah sebuah sebuah upaya yang konstruktif, terlepas ada kepentingan politik di dalamnya, di saat banyak sekali orang Jawa justru kehilangan identitas jawanya. Ucapan yang bernada keras dan dipandang melecehkan etnis tertentu dipandang sebagai ucapan gaya khas etnis tertentu yang keras dan lalu banyak orang mengkaitkannya dengan latar keetnikan tertentu. Berusaha santun, sang politisi dari luar Jawa itu dipandang lucu oleh sebagian orang Jawa. Kembali &#8216;bergaya keras&#8217;, oleh sebagian orang Jawa, sang politisi dipandang tak bisa berpolitik dengan santun. Ini adalah resiko hibriditas identitas yang kini menjadi fenomena di mana-mana. Lalu apakah sopan-santun itu selalu identik dengan etnis Jawa? Bagaimana prakteknya? Dalam kebudayaan Jawa ajaran sopan santun memang cukup mengakar, sampai bahasa Jawa pun terbagi dalam beberapa stratifikasi mulai krama inggil, krama madya dan &#8216;ngoko&#8217; misalnya. Dialek krama Inggil dikenal lemah lembut intonasinya. Tetapi bukan berarti etnik-etnik lain tak punya budaya &#8216;sopan-santun&#8217;. Lihatlah misalnya etnik Bali yang orangnya terkesan santun, juga orang-orang Minang misalnya. </p>
<p>Membaca Jawa agaknya kita juga perlu hati-hati karena Jawa terbagi dalam beberapa wilayah kebudayaan, sebagaimana disampaikan oleh Ayu Sutarto. Ada wilayah kebudayaan jawa Arek, pandalungan, Mataraman, Samin dan beberapa lainnya. Wilayah budaya arek terkenal dengan bahasanya yang &#8216;egaliter&#8217; hingga kadang terdengar kasar. Orang Jawa &#8216;Mataraman&#8217; akan sedikit kaget ketika awal-awal menetap di Surabaya atau Sidoarjo dan dipanggil oleh temannya yang asli Surabaya,&#8221;Hai, yo opo kabarmu, Cuk! Tambah makmur ae Peno!&#8221;. Bagi &#8216;arek suroboyo&#8217;, kata &#8216;jancuk&#8217; bisa bermakna persahabatan dan keakraban. Tetapi di sisi lain bisa mewakili ekspresi benci dan kemarahan. Panggilan yang saya sebutkan tadi tentu lebih pada nuansa keakraban. Tapi pada konteks,&#8221;O, pejabat Jancuk tenan, duwite rakyat digawe bancaan!&#8221;, lebih mewakili ekspresi kemarahan dan rasa tidak suka. Meski dalam suasana keakraban, &#8216;jancuk&#8217; bagi orang jawa mataraman terdengar kasar. Kepada teman saya asli Surabaya yang menyapa saya dengan kata &#8216;jancuk&#8217;, teman saya asli Yogya bilang kepada saya,&#8221; Sopo sih kuwi. Intonasi karo Bahasane kasar tur ra sopan! (Siapa itu. Intonasi dan bahasanya terdengar kasar dan tidak sopan)&#8221;. Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam praktek-praktek budaya jawa banyak sekali varian dan &#8216;ketegangan&#8217;. Parameter yang digunakan untuk menilai apakah seseorang ‘sopan’ atau ‘santun’ juga berbeda karena sangat berkaitan dengan nilai budaya yang eksis di wilayah budaya yang berbeda. </p>
<p>Yang juga perlu dicatat adalah bahwa tidak semua orang Jawa memiliki dan mempraktekkan budaya sopan-santun. Orang jawa yang &#8216;polah tingkah&#8217; nya seperti &#8216;preman&#8217; dan &#8216;brangasan&#8217; juga banyak. Sementara generalisasi bahwa orang batak, atau orang luar jawa, cenderung keras, brangasan, tidak santun juga tidak selamanya benar. Bagi orang Jawa sebagaimana disampaikan oleh Ayu Soetarto (2007), sebenarnya memiliki tugas menantang untuk benar-benar menjadi Jawa dan mencoba membuat orang lain (dari etnik lain) &#8216;njawani&#8217; karena dalam kebudayaan Jawa memang terkandung nilai-nilai luhur dan agung. Terminologi &#8216;Njawa&#8217; sendiri lebih lanjut dideskripsikan secara menarik oleh Ayu Suetarto (2007). Pertama, Sutarto memberikan contoh pasangan Bule yang tengah naik kereta menuju Yogyakarta. Karena kipas angin kereta tidak berfungsi lalu sang perempuan bule mengipasi sang lelaki Bule. Lalu seorang ibu jawa berkata, &#8220;Ndelengen Landa kok njawa. (Lihat orang Asing kok ‘njawa’)&#8221; </p>
<p>Dalam konteks ini &#8216;Njawa&#8217; dikaitkan dengan tingkah laku seperti baik hati, penuh perhatian dan menolong orang lain. Orang bule yang bertindak &#8216;baik&#8217; dinilai &#8216;njawa&#8217;. Sementara itu seseorang yang melihat dan mendengar bule tadi berbicara bahasa Asing bilang, &#8220;Ora njawa.&#8221; &#8216;Njawa&#8217; dalam konteks ini lebih dimaknai sebagai &#8216;understanding&#8217; dalam berbahasa. &#8216;Ora njawa&#8217; berarti tidak dipahami, tidak dimengerti. Lebih dari itu Sutarto memberikan contoh lain yaitu ketika ada seorang anak kecil yang buang air kecil sembarangan. Sebagian orang tua jawa akan bilang,&#8221;Aja diseneni, bocah cilik kuwi pancen durung Jawa (jangan dimarahi karena anak kecil itu belum Jawa)&#8221;. &#8216;Jawa&#8217; pada konteks ini lebih dikaitkan dengan etika yang dijadikan ukuran seseorang sudah menjadi Jawa apa belum. Dengan demikian klasifikasi &#8216;tingkah laku&#8217; dalam perspektif Jawa adalah Jawa (javanese), &#8216;durung jawa&#8217; (belum Jawa), &#8216;ora jawa&#8217; (tidak bersifat Jawa), dan &#8216;dudu Jawa&#8217; (bukan Jawa sama sekali). Seseorang dikatakan menjadi &#8216;Jawa&#8217; bila tingkah lakunya merefleksikan &#8216;berbudi bawa leksana&#8217; atau &#8216;sejatining&#8217; becik, yang berdasarkan pada &#8216;pituduh&#8217; dan &#8216;wewaler&#8217; dalam tradisi Jawa.</p>
<p>Jerman, 2009<br />
Yusri Fajar</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=83&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2010/01/01/menjadi-jawa-dalam-hibriditas-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemerdekaan ‘batik’,Nasionalisme ‘Klepon’, dan Kebangsaan ‘Grontol’.</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2009/09/08/kemerdekaan-%e2%80%98batik%e2%80%99nasionalisme-%e2%80%98klepon%e2%80%99-dan-kebangsaan-%e2%80%98grontol%e2%80%99/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2009/09/08/kemerdekaan-%e2%80%98batik%e2%80%99nasionalisme-%e2%80%98klepon%e2%80%99-dan-kebangsaan-%e2%80%98grontol%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 03:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Apa gerangan yang menarik dari ‘pendirgahayauan’ Indonesia di Frankfurt Jerman bagi saya? Rasa penasaran sudah menyergap saya sedari malam. Di pengumuman yang tertera dalam webiste Konsulat Jenderal republik Indonesia, disarankan bagi warga Indonesia untuk memakai baju batik atau setelan jas pada saat mengikuti upacara yang akan dimulai pukul sepuluh pagi. Saya memilih memakai batik karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=77&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa gerangan yang menarik dari ‘pendirgahayauan’ Indonesia di Frankfurt Jerman bagi saya? Rasa penasaran sudah menyergap saya sedari malam. Di pengumuman yang tertera dalam webiste Konsulat Jenderal republik Indonesia, disarankan bagi warga Indonesia untuk memakai baju batik atau setelan jas pada saat mengikuti upacara yang akan dimulai pukul sepuluh pagi. Saya memilih memakai batik karena saya memang sengaja tidak membawa jas dari Indonesia. Kedua, ‘pawaan’ saya sepertinya juga kurang pas kalau memakai jas, terlihat terlalu ‘mriyayi’. Apalagi di Jerman sudah terlalu banyak orang memakai jas. Para yuppies (eksekutif muda) Frankfurt yang setiap pagi berjejalan dengan saya di kereta bawah tanah tak lepas dari jas mereka.<br />
Bagi saya dengan memilih batik, saya merasa lebih menjadi ‘indonesia’ dari pada memakai jas. Konstruksi ini tentu saja membutuhkan penjelasan lebih lanjut dan bisa berlembar-lembar halaman. </p>
<p>Saya sendiri berusaha memakai baju batik dengan perasaan merdeka. Saya juga meyakinkan diri saya untuk membuang jauh konotasi primordial yang bisa melekat di dalamnya. Mulai dari tempat saya tinggal kemudian melewati beberapa stasiun subway di kota Frankfurt hingga di wisma Konjen, tempat upacara, jiwa merdeka atas batik itu saya jaga dengan seksama. Dan alhamdulillah sesampai di Konjen mayoritas orang indonesia yang datang juga memakai batik. Beberapa hari sebelumnya ketika saya menghadiri pertemuan DAAD di Bonn dengan seluruh penerima beasiswa se-asia tenggara, para pimpinan DAAD langsung bisa mengenali saya dan kawan-kawan dari Indonesia melalui batik yang kami pakai.</p>
<p>Batik bagi kebanyakan orang Indonesia adalah ‘bagian’ dari identitas yang sudah menjadi tradisi sejak lama dan dianggap merepresentasikan  ‘keindonesian’. Batik bukan monopoli Jawa karena di indonesia juga di kenal batik dari daerah lainnya meskipun motifnya memang berbeda-beda. Batik telah menjadi simbol universal dari identitas bangsa Indonesia selain berbagai produk seni ‘adi luhung’ lainnya yang juga ‘merepreentasikan’ khasanah budaya indonesia. Mungkin alasan inilah yang mendasari KJRI menganjurkan peserta upacara untuk memakai batik. Saya tidak dalam posisi untuk menginterogasi lebih lanjut apakah KJRI memang jauh berpikir tentang filosofi untuk meminta undangan memkai baju batik. Pada saat acara pentas tari Saman Aceh, setelah upacara, Bapak Konsul bertanya,”Apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia?” Dengan serempak semua peserta yang hadir menjawab,”bangga!” Meskipun setelahnya bapak konsul tidak meneruskan dengan pertanyaan mengapa para hadirin bangga. </p>
<p>Keunikan batik tidak saja menarik orang-orang Indonesia tetapi juga orang-orang di luar Indonesia. Hingga kabarnya ada berupaya mempatenkan hak paten batik di negaranya. Ini tentu jadi masalah karena batik adalah karya seni asli Indonesia yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Walter Benjamin, salah satu tokoh mahdzab Frankfurt, menyatakan bahwa keunikan sebuah produk seni akan ada dalam ruang dan waktu ketika karya itu masih memancarkan keunikannya dan mendapatkan ‘pengakuan’. Batik lebih jauh telah menjadi semacam ‘representasi’ dari entitas di balik batik itu sendiri. Ia mengacu pada ‘peradaban’ yang tentu awalnya tidak mudah untuk dilahirkan.</p>
<p>Profesesor Stuart Hall dari Open Univesity of London bahwa ‘common idea’ dari representation adalah to present, to image, to depict dari makna dari entitas yang direpresentasikan. Namun sebenarnya ‘representasi’ pada pemahaman yang lebih kompleks, menurut Hall, bisa lebih dari itu terutama ketika terkait dengan distorsi dari apa yang seharusnya direpresentasikannya. Media yang digunakan untuk merepresantikan dan apa yang dipresentasikan pada gilirannya bisa menjadi dua entitas yang berbinari oposisi. Dan soal baju batik memang bukan semata terkait dengan ‘karya seni dari benang yang dirajut menjadi kain lalu di situ ditorehkan gambar-gambar unik khas Indonesia’ itu, tetapi juga terkait dengan manusia Indonesia yang memakainya dan mereka justru akan menjadi media penting dalam memaknai ‘semangat, tingkah laku dan sikap’ di balik ‘baju’ batik itu. </p>
<p>Selain masalah batik, hal lain yang juga menarik untuk dicermati ketika peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di frankfurt adalah berbagai makanan khas Indonesia yang disajikan, seperti ‘grontol’ (jagung muda direbus yang sudah dipisah dari batangnya dan lalu ditaburi dengan parutan kelapa muda dicampur gula dan sedikit garam) dan juga ‘Klepon’ (jajanan bulat kecil-kecil terbuat dari tepung, berwarna hijau, dan di dalamnya terdapat gula kelapa berwarna cokelat). Di hadapan para hadirin yang datang, yang tidak hanya warga negara Indonesia, tentu saja makanan itu bisa menjadi media ‘resistensi’ dan eksistensi Indonesia karena keunikan makanan tersebut bisa terkait dengan akar sejarah, kolonialisme, agama dan budaya lokal rakyat. Rasa dari makanan khas indonesia ini melambangkan ‘otentisitas’ dan juga ‘indigousness’ yang menarik untuk digali lebih jauh dari sudut pandang post-kolonial misalnya. </p>
<p>Apa yang bagi orang-orang non indonesia dianggap tidak ada dan tidak didapatkan di negaranya, terkait makanan tadi, berarti menjadi bagian dari ‘adanya’ Indonesia. Claude Levi-Strauss menyatakan bahwa kita bisa menemukan latar-latar khusus terkait bagaimana makanan masyarakat tertentu bisa menjadi penanda dari kode-kode budayanya. Di kota jajanan tradisional sudah tergeser oleh keberadaan jajanan modern yang dipenuhi keju dan cokelat. Tapi di pasar-pasar tradisional yang masih eksis di desa-desa atau kota kecamatan, jajanan seperti grontol dan klepon masih menjadi idola masyarakat. Konsumsi atas grontol dan klepon yang kalau di daerah-daerah pelosok indonesia memberikan semangat hidup dan bantuan materi kepada mereka yang memproduksi jajanan tersebut, karena banyak dari mereka yang bergantung dari jualan jajanan tersebut. Metamorfosis kultural dan lidah kita dari grontol, klepon ke jajanan modern dan ‘beranak pinak’ dari barat tentu adalah bagian dari gelombang pasar bebas yang tak terelelakkan. Ketika hal ini nanti sudah menjadi budaya tentu saja, klepon, grondol dan semacamnya lambat laun pasti semakin terpinggirkan. Atau nasibnya akan seperti produk seni yang masuk dalam komodifikasi global dan terkapar dalam berbagai seremoni-seremoni artifisial belaka.</p>
<p>Di negeri yang pernah terpecah menjadi dua (Jerman barat dan jerman timur), orang-orang Indoneia yang datang tak segan untuk menyantap klepon dan grontol. Bagi mereka tentu selain makanan tersebut jarang didapatkan di Jerman namun juga rasanya memang cocok dengan lidah mereka. Sementara pengakuan akan kelezatan suatu makanan khas suatu bangsa oleh orang-orang dari luar bangsa tersebut merupakan suatu kehormatan sekaligus ‘legitimitasi’ dari peradabannya. Pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh negara-negara di dunia menjadi ‘resource’ penting dalam menghapuskan penjajahan dari bumi Indonesia, baik itu penjajahan dengan senjata dan kekuasaan, maupun penjajahan melalui penetrasi budaya. Batik sekilas adalah soal pakaian, grondol dan klepon adalah soal makanan. Mungkin tak semenarik politik dan isu-isu nasional lainnya. Namun sebenarnya di balik semuanya terselip makna yang bersinergi dengan gerak peradaban di Indonesia. Saya coba makan satu buah klepon yang diedarkan oleh ibu-ibu di konjen. Ketika saya gigit, ada yang terasa manis, dan itu cukup mengobati rasa ‘pahit’ ketika saya harus jauh dari kampung halaman ‘Indonesia’. </p>
<p>Dirgahayu Republik Indonesia!<br />
Merdeka,</p>
<p>Salam dari frankfurt, 17 Agustus 2008<ins datetime="2009-09-08T03:52:17+00:00"><br />
Yusri Fajar</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=77&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2009/09/08/kemerdekaan-%e2%80%98batik%e2%80%99nasionalisme-%e2%80%98klepon%e2%80%99-dan-kebangsaan-%e2%80%98grontol%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sampeyan Iso (Anda Bisa) Bahasa Inggris</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/10/23/sampeyan-iso-anda-bisa-bahasa-inggris/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/10/23/sampeyan-iso-anda-bisa-bahasa-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 22:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Sampeyan  Iso (anda bisa) Bahasa Inggris?   “Good Morning, selamat pagi Klambi (baju) kuning menarik hati&#8230;&#8230;.” (Kutipan lirik salah satu lagu kendang Kempul Banyuwangi)   Saya masih ingat betul lirik salah satu lagu “Kendang Kempul (musik tradisional daerah Banyuwangi yang awalnya bertumpu pada alat musik kendang dan kempul-kini musik ini sudah dipadu dengan alat musik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=68&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span lang="IN">Sampeyan<span>  </span>Iso (anda bisa)</span></em></strong><strong><span lang="IN"> Bahasa Inggris?</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Good Morning, selamat pagi</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Klambi (baju) kuning menarik hati&#8230;&#8230;.”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0 0 0 36pt;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">(Kutipan lirik salah satu lagu kendang Kempul Banyuwangi)</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saya masih ingat betul lirik salah satu lagu “Kendang Kempul (musik tradisional daerah Banyuwangi yang awalnya bertumpu pada alat musik kendang dan kempul-kini musik ini sudah dipadu dengan alat musik modern)” yang saya kutip di atas. Waktu saya kecil (saat itu sekitar tahun 80 an) lagu tersebut sering diputar di beberapa stasiun radio lokal di Banyuwangi. Dari lirik di atas tampaknya sang pencipta lirik menyadari posisi ‘bahasa Inggris’ yang tengah popular di Indonesia sehingga dia tak segan untuk memasukkan frasa ‘good morning’. Popularitas bahasa yang akar-nya dari bahasa Anglo-Saxon yang di bawa oleh beberapa suku Jerman bagian utara yang melakukan ekspansi ke daratan Inggris ini, bisa dilihat dalam berbagai bidang mulai pendidikan sampai ekonomi. Saya yang masih duduk di bangku SD, saat itu, dengan cepat tahu bahwa ‘Good Morning’ itu artinya ‘selamat pagi’ meskipun saya belum mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Beberapa group musik Indonesia ternama yang tengah naik daun juga tak segan menyelipkan lagu dengan lirik bahasa Inggris, seperti Letto dan Dhewa 19. Tentu saja mereka sadar bahwa ‘pangsa pasar’ mereka yang mayoritas generasi muda juga tidak asing dengan bahasa Inggris.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Masih berkaitan dengan eksistensi Bahasa Inggris, saya punya cerita lain lagi. Suatu hari tetangga rumah di kampung saya di Banyuwangi yang baru menginjak kelas satu SMP berbicara sedikit kencang waktu melintas di depan rumah saya sambil sedikit tersenyum, “Ayam Iksan”. Saya balik tanya “Ayam Iksan kenapa?”. Dia bilang, “Bukan soal ‘ayam’ yang biasa kita makan, tapi ‘ayam’ yang saya maksud adalah bahasa Inggris yang artinya ‘aku atau saya’. Oh, belakangan saya baru tahu bahwa ‘Ayam’ yang dia maksud adalah frase “I am” yang pada saat itu dia ucapkan mirip dengan kata “A-yam”. Memasuki era yang kata banyak orang adalah era ‘global’ dan ‘perdagangan bebas’ dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ‘global’nya, bahasa Inggris tidak hanya diajarkan sejak SMP tapi juga di ‘Play Group’ dan taman Kanak-Kanak. Bahasa dengan ‘active barriers’ yang mayoritas orang kulit putih ini menjadi tidak lagi asing di telinga anak-anak kecil. Dan ini tidak terjadi di Indonesia saja tetapi juga di berbagai Negara di berbagai benua.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bagi bahasa lokal tentu saja bahasa global menjadi pesaing berat. Bahkan ada yang menyebut bahasa Inggris sebagai ‘ <em>a killing language’</em>. Orang tua dari suku Jawa (contoh saja-bisa juga dari suku lainnya) barangkali kemudian berada dalam posisi ‘in-between’. Di satu sisi mereka bangga anak mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus yang dengannya si anak bisa andil dalam percaturan global yang <em>highly competitive</em>, sementara di sisi lain mereka merasa sedih karena si anak tidak lagi bisa berbahasa Jawa dengan baik, atau bahkan tidak bisa sama sekali. Seorang penutur asli bahasa Bali sekaligus budayawan Bali barangkali juga senang sekali melihat anak-anak Bali mampu berbahasa Inggris dengan baik karena dengan begitu mereka dapat memperkenalkan budaya Bali pada wisatawan. Di sisi lain si budayawan ini juga mungkin sedih dan marah melihat bahasa Bali ke depan terancam punah atau mati karena penuturnya yang semakin sedikit dan peminatnya yang berkurang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Banyak lembaga pendidikan dan ekonomi, serta berbagai instansi, mewajibkan dan mensyarakatkan kemampuan Bahasa Inggris bagi mereka yang ingin ‘masuk’ di dalamnya. Banyak teman saya yang gagal studi lanjut karena kemampuan bahasa Inggris mereka dinilai kurang. Bahasa Inggris ‘benar-benar superior’ dibanding dengan bahasa lainnya yang lalu –karena konstruksi global- menyandang ‘cap’ inferior, marjinal, tak layak jual dan ‘ketinggalan jaman. Berbagai Universitas lainnya di Indonesia sudah mewajibkan mahasiswa yang akan segera lulus dan diwisuda untuk memiliki Skor Toefl yang nilai standarnya sudah ditentukan. Banyak mahasiswa dan para pendidik yang protes karena menganggap ini memberatkan dan kebijakannya ‘sedikit berbau represif’ meski mahasiswa dan para pendidik lain ada yang seratus persen setuju dengan alasan untuk lebih mudah mendapatkan perkerjaan dan ‘lebih siap’ masuk era global yang semakin katanya semakin ‘edan’. <em>Yen ora edan ora keduman (kalau tidak ikut ‘edan’ tidak mendapatkan bagian)</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lalu, apakah dominasi Bahasa Inggris sebagai bahasa Global bisa berakhir? Apa yang memungkinkan terjadinya perubahan dominasi bahasa: dari Bahasa Inggris ke Bahasa lainnya, misalnya Cina, Arab, Jerman, melayu, dan sebagainya? </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dominasi Politik/Militer dan Ekonomi </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">sebagai Pendulum Penyebaran Bahasa</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Posisi bahasa tidak bisa dilepaskan dari dominasi politik, militer dan ekonomi. Sebagaimana disampaikan oleh David Crystal (2003), bahwa sebuah bahasa menjadi bahasa internasional karena satu faktor yang relatif sama sepanjang sejarahnya: kekuatan dari para penuturnya, khususnya politik dan militer. Kenapa Yunani menjadi bahasa internasional di daratan ‘middle east’ 2000 tahun yang lalu? Tentu tidak disebabkan oleh para filosofnya seperti Aristoteles dan Plato tetapi jawabannya lebih terkait dengan kekuatan pasukan Alexander Agung yang melakukan penaklukan di beberapa bangsa lain. Lalu kenapa Bahasa Latin begitu dikenal di daratan Eropa waktu dulu? Kita bisa telusuri kekuasaan kekaisaran romawi yang begitu kuat dan disegani. Dan kenapa bahasa Spanyol, portugis, dan prancis menyebar ke Amerika Latin dan Afrika. Kita bisa pelajari bagaimana kebijakan bangsa-bangsa penjajah ini, dengan kekuatan bala tentaranya, menanamkan pengaruh politik, budaya, termasuk bahasa, ke wilayah-wilayah itu. Inggris juga bisa kita masukkan dalam kategori negara yang juga dengan politik imperalisnya berhasil menanamkan bahasa di negera-negara bekas jajahannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Namun, diskursus dominasi bahasa juga tidak bisa dilepaskan dari dominasi Ekonomi. Di abad 19 dan 20 dominasi ekonomi secara global disebarkan melalui jaringan teknologi-komunikasi, dan berbagai organisasi multinasional yang banyak terlihat menjadi corong ‘negara super power’. Beberapa dekade terakhir kita bisa menyebut Amerika sebagai negara superpower yang mampu membuat banyak negara lain di dunia bergantung kepadanya. Di akhir abad 19 populasi di Amerika telah mendekati 100 juta yang tentu saja lebih besar dari negara manapun di eropa barat. Ekonomi Amerika berkembang paling cepat dan produktif. Sampai akhirnya banyak transaksi internasional yang mengacu pada nilai tukar dolar Amerika. Sekutu Amerika paling setia sampai kini tentu saja Inggris yang nilai tukar mata uangnya tertinggi di dunia. Inggris di awal-awal abad 19 telah menjadi negara industri papan atas di dunia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Inggris dan Amerika tak pernah henti memberikan dukungan, terutama begitu kentara pada soal agresi militer Amerika ke Irak. Perdagangan dunia begitu dipengaruhi oleh Amerika sehingga banyak negara-negara berkembang sangat bergantung pada Amerika, termasuk Indonesia. Secara politik posisi Amerika boleh dibilang di atas angin. Kebijakan-kebijakan PBB selalu tak bisa lepas dari dominasi dan kepentingan negara kapitalis ini. Hak veto ‘secara informal’ seakan-akan hanya menjadi milik Amerika yang begitu menentukan berbagai keputusan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dominasi Amerika dan Inggris sebagai negara ‘inner circle’ pengguna bahasa Inggris menjadi faktor penting yang membuat bahasa Inggris menjadi bahasa global. Dominasi ini kemudian mendapatkan dukungan dari sektor lain seperti pendidikan. Kiblat pendidikan tertuju pada Inggris dan Amerika yang dianggap memiliki sistem pendidikan, sarana dan prasarana serta domain ilmu pengetahuan yang berada di atas lembaga pendidikan di negara-negara lainnya. Dengan dukungan kekuatan ekonomi, dua negara ini berhasil menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui medium bahasa Inggris ke berbagai penjuru dunia. Referensi-referensi penting ‘kelas dunia’ mayoritas terekam dalam berbagai buku bahasa Inggris. Berbagai karya sastra dunia ditulis dalam bahasa Inggris atau kalau penulisnya menulis dalam bahasa lain maka karya itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris agar bisa ‘go internasional’. Transaksi-transaksi perdagangan internasional , diplomasi, forum-forum internasional juga dilakukan dengan bahasa Inggris. Apa boleh buat, masyarakat dunia memang sedang (terpaksa) mengarahkan ‘kiblat’ nya ke negara yang begitu dominan dalam kebijakan politik dan ekonomi ini. Muncul kemudian anggapan yang mengkonstruksi sebagian besar masyarakat dunia bahwa ‘dengan menguasai bahasa Inggris, seseorang bisa turut andil dalam percaturan global!’, ‘bahasa Inggris menjadi kunci mengenal cakrawala dan horison dunia’, dan sebagainya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Agen-agen ‘bahasa Inggris’ dengan jaringan internasionalnya juga terlihat berhasil menanamkan pengaruh dan membangun eksistensi bahasa ini. <span> </span>Di Indonesia kita bisa melihat bagaimana Amerika, Inggris, dan Australia bahu-membahu melakukan penyebaran bahasa Inggris melalui lambaga-lembaga kursus, test, dan pendidikan. Tidak hanya mereka yang ingin studi lanjut saja akhirnya yang membutuhkan nilai TOEFL atau IELTS sebagai ukuran bahwa mereka bisa berbahasa inggris, tetapi juga mereka yang ingin melanjutkan sekolah di dalam negeri, ingin mendapatkan pekerjaan di perusahaan dan lembaga pemerintah, sebagaimana yang sudah sedikit saya singgung di awal tulisan ini. Di negara-negara ‘outer circle’ (di luar Inggris, Amerika, Kanada, Australia, Selandia baru), eksistensi bahasa Inggris tak kalah dominan dan maju. Misalnya seperti di India, Singapura, Kamerun, Nigeria. Di negara-negara lapis ketiga atau ‘expanding circle’ seperti Cina, Rusia, Jerman, eksistensi bahasa Inggris juga semakin berkembang. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sisi Positif dan Negatif Bahasa Global</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Terlepas dari dominasi bahasa Inggris yang sekarang menjadi bahasa global, secara universal posisi bahasa global, entah itu bahasa Inggris, bahasa Latin dan Bahasa Yunani (yang dulu pernah eksis), bisa ditelaah dari sisi positif dan negatifnya. Hal ini penting untuk memberikan gambaran dan pondasi dalam merespon eksistensi bahasa global.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bahasa global mempunyai nilai positif pada konteks kemungkinannya untuk dijadikan ‘lingua franca’, common language, dalam komunikasi sehingga orang-orang dengan berbagai bahasa Ibu yang berbeda bisa menjalin kerjasama dengan bahasa global ini. Pada kasus konflik yang melibatkan beberapa kelompok masyarakat dengan perbedaan bahasa dan budaya, bahasa global juga bisa digunakan sebagai alternatif alat komunikasi dalam menyelesaikan konflik. Lebih jauh pada tataran penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi ke berbagai penjuru dunia, bahasa global bisa menjadi alat yang sangat efektif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sementara sisi negatif dari bahasa global, seperti yang sudah sedikit saya singgung di paragraf ke tiga tulisan ini, adalah posisi bahasa ibu yang terancam marjinal dan hilang. Dalam konteks pembelajaran bahasa, eksistensi bahasa global seringkali menurunkan minat dan motivasi seseorang untuk memperlajari bahasa lokal dan bahasa nasional. Sisi-sisi negatif lainnya juga bisa ditambahkan misalnya terkait dengan nasionalime, pelestarian kebudayaan lokal dan nasional, politik nasional dan sebagainya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bila Dominasi Ekonomi dan Politik Runtuh</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bila eksistensi bahasa Inggris sebagai bahasa global sangat dipengaruhi oleh kekuatan Ekonomi, politik dan militer, maka eksistensinya bisa saja digantikan oleh bahasa lain yang dianut oleh negara (atau negara-negara) yang menggantikan dominasi ekonomi ini. Masalahnya tidak mudah memang karena bahasa Inggris sendiri selain menjadi bahasa ibu di negera-negara maju seperti Amerika, Inggris, Kanada, Australia, juga sudah cukup mengakar di berbagai negara. Penutur aktifnya juga begitu besar jumlahnya. Di Indonesia, bila di bandingkan dengan bahasa asing lainnya, bahasa Inggris masih berada di posisi paling atas. Peta kekuatan ekonomi dan politik di dunia menunjukkan pergerakan yang dinamis. Bahkan yang terbaru di berbagai media massa masyarakat dunia bisa membaca dan melihat berita seputar krisis serius di bidang Ekonomi yang melanda Amerika, negara super power yang mempunyai andil sangat besar dalam mengkonstruksi bahasa Inggris sebagai bahasa Global. Apakah bahasa Inggris juga akan mengalami kemunduran seiring ‘keruntuhan Amerika dan sekutunya (entah kapan, segera?), sebagaimana yang dialami bahasa Yunani dan bahasa Latin seiring runtuhnya kekuatan alexander Agung dan kekaisaran Romawi? Jawabnya jelas ‘ya’ karena kemungkinan itu ada. Seorang teman bertanya kepada saya bila kekuatan politik dan ekonomi, misalnya, bergeser dari Amerika ke Cina apakah kemudian anak cucu kita nanti akan belajar bahasa Cina. Saya jawab dengan jelas, ‘bisa saja’. Meskipun dengan sedikit bercanda saya bilang,”Tapi huruf Cina lebih sulit, jadi harus lebih extra belajarnya!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dan bisa jadi lirik lagu kendang kempul yang saya kutip di awal tulisan dinyanyikan dengan lirik sedikit berbeda:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span class="gen1"><em><span lang="IN">&#8230;..Z</span></em></span><span class="gen1"><em><span><a href="http://www.chinaboard.de/chinesisch_deutsch.php?pinyin=zao3shang5hao3"><span style="color:black;" lang="IN">ǎoshanghǎo</span></a></span></em></span><em><span lang="IN">,selamat pagi</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Klambi(baju) kuning menarik hari&#8230;&#8230;&#8230;</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Salam dari Bayreuth Bayern,</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yusri Fajar</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=68&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/10/23/sampeyan-iso-anda-bisa-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menakar Urgensi Sayembara Sastra</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/24/menakar-urgensi-sayembara-sastra/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/24/menakar-urgensi-sayembara-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 14:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Menakar Urgensi Sayembara Sastra Oleh: Yusri Fajar (Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya Malang)               Di tengah geliat sastra di tanah air, sayembara sastra merupakan salah satu upaya penting untuk meningkatkan, memacu dan menghargai kreativitas sastrawan. Terminologi lain yang biasa digunakan dalam kegiatan semacam ini adalah lomba penulisan karya sastra. Sayembara sastra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=44&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Menakar Urgensi Sayembara Sastra</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Oleh: Yusri Fajar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">(<em>Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya Malang</em>)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Di tengah geliat sastra di tanah air, sayembara sastra merupakan salah satu upaya penting untuk meningkatkan, memacu dan menghargai kreativitas sastrawan. Terminologi lain yang biasa digunakan dalam kegiatan semacam ini adalah lomba penulisan karya sastra. Sayembara sastra akan sangat ditentukan oleh peran dewan juri, kualitas karya sastra dari peserta, sosialisasi karya tersebut beserta kritiknya, dan kegiatan pasca lomba seperti pelaksanaan lokakarya dan pembentukan jaringan sastrawan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Jangan sampai sebuah sayembara sastra hanya menjadi rutinitas atau ‘ritual’ untuk sekedar menjaga <em>prestise</em> dan memompa denyut nadi sastra secara temporal tanpa memperhatikan tujuan mendasar dan jangka panjang sayembara yang bermuara pada peningkatan kreativitas sastrawan, budaya baca, dan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra dan sastrawan. Kesadaran akan pentingnya penghargaan terhadap para sastrawan dan kontinyuitas revitalisasi sastra, akan menjadikan diseminasi nilai-nilai universal sastra dan pemberdayaan peran sastrawan dalam perubahan bisa dilangsungkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sayembara sastra selain berpeluang menghasilkan karya-karya berkualitas juga berpotensi menjadi media kelahiran para sastrawan muda yang penuh talenta. Hal ini tidak berarti bahwa eksistensi dan kreativitas para sastrawan tua dinegasikan dan dilupakan, namun upaya regenerasi sastrawan sangat diperlukan. Para sastrawan muda perlu muncul dan ‘dimunculkan’ karena kelak mereka akan meneruskan kiprah dari para sastrawan pendahulunya. Di tanah air telah banyak lahir para sastrawan muda berbakat, seperti Raudal Tanjung Banua, Mashuri, Sunlie Thomas Alexander, Indra Tjahyadi, Dewi Sartika, Alex R. Naigolan, Abidah El Khaliqy, Ratih Kumala, Dianing Widya Yudistira, Nenden Lilis A, dan masih banyak lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dalam sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006 yang pemenangnya diumumkan pada tanggal 9 Maret 2007 misalnya, pemenang satu adalah Mashuri, sastrawan muda kelahiran Lamongan, 2 April 1976, dengan novelnya <em>Hubbu</em> yang kini telah di terbitkan oleh Gramedia. Sementara pemenang sayembara novel DKJ periode sebelumnya adalah Dewi Sartika, sastrawan dari Bandung kelahiran 27 Desember 1980, dengan novelnya <em>Dadaisme. </em>Hal ini menjadi bukti bahwa kreativitas sastrawan muda patut diperhitungkan dan diapresiasi. Jumlah peserta sayembara sastra yang cenderung mengalami peningkatan, menunjukkan produktivitas dan antusiasme para sastrawan. Sayembara novel DKJ tahun 2006 diikuti 249 novel. Padahal periode sebelumnya hanya diikuti oleh 75 peserta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sayembara sastra adalah perhelatan yang melibatkan dewan juri. Biasanya panitia dan dewan juri dalam proses kerjanya dari awal sampai akhir menegaskan bahwa “keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat”. Artinya dewan juri diberi hak ‘prerogatif’ untuk memilih para pemenang dan nomine. Keputusan pemenang bersifat final dan harus diterima meskipun pada gilirannya sebuah karya yang dinyatakan menjadi pemenang oleh dewan juri, menurut kritikus sastra dan sastrawan lainnya bisa dinilai tidak layak menjadi pemenang. Hal ini tidak terlepas dari selera, kecenderungan terhadap gaya dan perbedaan paradigma penilaian atas karya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Terlepas dari unsur subjektifitas, penjurian tetap bisa diupayakan objektif dengan berpatokan pada kaidah-kaidah universal mutu karya sastra yang diyakini dan disepakati. Lebih jauh panitia biasanya akan memilih dewan juri yang tepat dan layak di bidangnya. Misalnya untuk sayembara novel, novelis dengan reputasi tinggi dan sudah diakui akan ditunjuk menjadi juri. Demikian juga juri untuk cerita pendek, puisi dan sayembara penulisan naskah drama. Sementara panitia, dalam upaya mengedepankan objektifitas, bisa menghapus atau menghilangkan nama para pengarang pada saat penjurian berlangsung. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Hal penting dan mendasar di balik proses punjurian dan pengumuman pemenang sayembara, sebagaimana dikemukan di awal tulisan ini, adalah sosialisasi karya peserta beserta kritiknya melalui publikasi secara luas. Seringkali kritik dan analisis karya peserta sayembara tidak dilakukan menyeluruh dan memadai bahkan tidak dipublikasikan secara terbuka sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui karya-karya peserta sayembara, dan latar belakang kenapa sebuah karya dipilih menjadi pemenang dan kenapa yang lain tidak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan karya-karya yang mengikuti sayembara, tantangan dan peluang yang akan dihadapi oleh para pengarang tersebut akan bisa dirumuskan. Dengan begitu, pengarang akan terus mengasah kemampuan untuk meningkatkan kualitas karyanya. Ulasan berbobot atas unsur intrinsik maupun ekstrinsik karya akan semakin menguatkan ranah kesusastraan dan memberi masukan berharga bagi pengarang dan masyarakat penikmat sastra. Apresiasi pasca sayembara dipandang penting untuk mengetahui proses kreatif dan isi karya dari para peserta yang pasti memiliki latar sosiologis dan struktur teks yang berbeda. Dengan demikian, kritik sastra akan berkembang dan dan wacana atas ratusan karya peserta sayembara akan semakin besar. Selain itu, lokakarya yang mempertemukan peserta sayembara dan dewan juri bisa dilakukan sebagai media diskusi, tukar pendapat, ajang saling belajar dan pembentukan jaringan (komunitas). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sayembara sastra diharapkan bisa menjadi salah satu media untuk memacu denyut sastra di tanah air. Sayembara yang dikelola dengan baik dan objektif dengan selalu mengedepankan eksplorasi mutu karya diharapkan dapat <span> </span>memacu sastrawan muda untuk terus bereksplorasi sehingga gelombang proses kreatif dalam jagad kesusastraan di hari depan akan berkesinambungan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=44&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/24/menakar-urgensi-sayembara-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Wong’, Don’t Be Indolent to Become ‘Wong’</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/17/%e2%80%98wong%e2%80%99-don%e2%80%99t-be-indolent-to-become-%e2%80%98wong%e2%80%99/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/17/%e2%80%98wong%e2%80%99-don%e2%80%99t-be-indolent-to-become-%e2%80%98wong%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 14:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[‘Wong’, Don’t Be Indolent to Become ‘Wong’ (Refleksi Kebalauan)             Wong dalam bahasa Jawa berarti orang. Wong adalah tunggal dan wong-wong berarti plural. Kalau ada seni pertunjukan wayang wong berarti adalah wayang dengan orang sebagai aktornya, berbeda dengan wayang kulit yang aktornya adalah ‘kulit’ yang dibuat ‘hidup’ oleh sang dalang. Wong sebagai entitas riil tentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=36&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">‘Wong’, Don’t Be Indolent to Become ‘Wong’</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-family:Georgia;" lang="IN">(</span></strong><em><span style="font-family:Georgia;" lang="IN">Refleksi Kebalauan)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span>            </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Wong dalam bahasa Jawa berarti orang. Wong adalah tunggal dan wong-wong berarti plural. Kalau ada seni pertunjukan wayang wong berarti adalah wayang dengan orang sebagai aktornya, berbeda dengan wayang kulit yang aktornya adalah ‘kulit’ yang dibuat ‘hidup’ oleh sang dalang. Wong sebagai entitas riil tentu lebih utuh dibandingkan dengan kulit yang pada konteks <em>performance </em>wayang kulit disulap menjadi media dalam samudera tanda berbaju estetika dan pegulatan wacana melalui teknik bermain dan ceritanya. Visualisasi wong secara langsung di atas pentas akan memberikan efek yang berbeda dengan hanya sebatas kulit. Namun demikian seorang aktor yang bermain dalam wayang wong juga tidak mudah untuk menunjukkan apakah dia mempunyai kekuatan keaktoran sehingga dia benar-benar bisa hadir di panggung sebagai wong yang mengemban tugas mengkomunikasikan cerita dan membangun kesan pada diri penonton yang juga ‘wong’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Kalau kita masih dipanggil ‘wong’ berarti kita masih dianggap orang, bukan makhluk lain. Mendeklarasikan diri sendiri dan orang lain sebagai ‘wong’ berarti mengibarkan semangat ‘meng’orang’kan bukan mem’makhluk-lain’kan. Pemahaman mutualnya kemudian adalah bahwa bila kita meng’orang’kan orang lain maka kita juga akan di’orang’kan’. Tuhan menciptakan ‘wong’ dalam bentuk paling indah, <em>fii ahsani tagwim</em> dalam bahasa Alqurannya, dan lebih lengkap dibandingkan dengan makhluk lainnya. Di desa saya kalau ada gotong royong, apa itu hajatan seperti mantenan dan sunatan, membersihkan jalan, membangun rumah, dan sebagainya, orang-orang seringkali menggunakan panggilan ‘wong’ untuk orang lainnya. Misalnya, “Wong, pacule sik kurang siji. Sopo sing duwe meneh yo kiro-kiro?” (Wong, cangkulnya masih kurang satu. Siapa kira-kira yang punya lagi ya?”)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Tradisi gotong royong, mengerjakan tugas tertentu secara bersama-sama tanpa pamrih, sekarang masih bisa ditemukan di wilayah-wilayah pedesaan yang hubungan paguyubannya masih kuat. Tapi gotong royong seringkali didominasi oleh orang-orang yang sudah ‘berumur’, sudah bapak-bapak dan juga sudah ibu-ibu. Mereka yang tergolong <span> </span>remaja dan muda jarang terlihat bergabung. Ketika gotong royong berlangsung remaja dan pemuda banyak yang punya acara sendiri dan tidak sedikit bila, misalnya kerja baktinya minggu pagi hari, mereka masih berada di tempat tidur karena malamnya begadang dengan teman-temannya. Tidak sedikit pula yang menghabiskan malam dengan nongkrong di pinggir perempatan jalan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Tua dan muda, semuanya adalah wong. Keduanya sama-sama memiliki entitas dasar sebagai manusia. Cuma respon mereka atas gotong royong seperti tertera di paragaraf kedua di atas berbeda. Namun tentu saja fenomena di atas akan ditolak oleh banyak generasi muda yang masih memiliki akar kultural gotong-royong yang menghujam dalam diri dan, yang dengan tegas mengatakan, bahwa, “Saya setiap ada kerja bakti selalu hadir. Yang pemudanya mabuk-mabuk dan tak mau gabung dengan para tetua yang sedang kerja memperbaiki selokan itu adalah pemuda-pemuda di desa sebelah.” Pernyataan ini bagus karena menunjukkan masih ada, meski tidak majority, pemuda yang masih mau bergotong royong. Tapi ada pemuda lain yang protes, “Dia hanya mau gotong royong di desanya saja, dan itupun kalau ada pak Lurah. Maklum dia itu naksir anaknya pak lurah. Tetapi Giliran Gotong royong yang merupakan gabungan tiga desa, dia tidak mau datang. Rugi katanya.” Saya bilang bahwa minimal si pemuda tadi mau gotong royong.” Dia menimpali, “Tapi aportunis!” Akan tetapi dalam tradisi Hegelian, thesis ini akan ditandingi oleh anthesis lainnya (sebagai perlawanan tentunya) sehingga akan muncul hipotesis baru. Bagus kalau generasi muda saling membangun thesis, hypotesis dan antitesis. Ini artinya mereka berwacana.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Soal Gotong-Royong dan Wong.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Kuntjaraningrat mengatakan bahwa salah satu mentalitas manusia Indonesia yang menghambat ‘pembangunan’ adalah mentalitas berbasis majikan sebagai tujuan akhir dengan sekian pamrihnya tentu. Oleh karena itu bila majikan ada, banyak ‘wong’ Indonesia yang begitu ‘terlihat’ rajin mengerjakan kewajibannya. Tetapi bila sang majikan sedang tidak ada di tempat atau tidak melakukan ‘sidak’, ‘wong’ yang sedang menjadi pegawai tadi menjadi malas. Mentalitas lainnya yang menurut kunjaraningrat juga bisa menghambat pembangunan adalah mentalitas yang suka menerabas alias sukanya memakai jalan pintas. Untuk mencapai tujuan atau kedudukan tertentu ditengarai banyak ‘wong’ yang menghalalkan segala cara. Selain merugikan ‘wong’ lainnya, jalan pintas sesungguhnya sama saja dengan melakukan pembodohan atas diri, terutama terkait dengan proses objektif dan mengedepankan kualitas dan profesionalitas. Mentalitas menerabas ini telah menjadi penyakit di dalam birokrasi dan institusi secara menahun sehingga sulit untuk diobati. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Dalam praktek berbangsa dan bernegara semangat ‘gotong royong’ untuk kemajuan bersama sulit dilakukan karena begitu kuatnya arus polarisasi berbagai kepentingan politis (baca: kekuasaan). Gotong royong telah dikontruksi dalam bingkai ‘vested interest’ sehingga kemurniannya sulit dilacak dan dirasakan manfaatnya. Hasilnya ‘visi dan misi’ pembangunan yang mesti dilakukan secara bersama dan untuk kemaslahatan banyak wong menjadi sering terhambat dan mengalami banyak kegagalan. Di Negeri ini ada wong-wong yang memiliki sekian privilige dalam peta kekuasaan yang bisa menentukan sebagian besar ‘modal’ negara untuk kepentingan tertentu, seringkali pribadi dan kelompok, yang dengan mudah mereka rancang melalui berbagai kompromi dengan pengelola negara dan pihak keamanan. Akibatnya rakyat banyak yang tidak merasakan hasil pembangunan. Mereka yang miskin semakin miskin. Pengelola negara dengan demikian telah gagal meng’orangkan’ rakyatnya. Memanusiakan rakyat, dengan konsep pembangunan manusia seutuhnya, mestinya berimplikasi pada kemampuan untuk mencukupi kebutuhan rakyat baik lahir dan batin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Prolog Cak nun dalam album ‘Perahu Nuh’, bila kita renungkan, sebenarnya ingin memberikan penegasan<span>  </span>bahwa ‘orang-orang besar (wong-wong gede) sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Mereka bertarung, saling menjatuhkan dan menyingkirkan. Mereka hampir tidak pernah ingat rakyat yang memberikan mereka fasilitas dan amanah. Yang mereka ingat adalah kepentingan mereka sendiri. Oleh karena itu rakyat kecil, wong-wong, pribadi-pribadi harus mempunyai dan membuat agenda sendiri. Penggede-penggede itu tidak akan sanggup mengurusi terlalu banyak ratapan, nasib dan tangisan rakyatnya. Ketika gerobak-gerobak para pedagang kecil diangkat dan dirusak oleh satpol PP, atau ketika para keluarga miskin yang tidak mampu membeli beras dilanda lapar dan ditimpa penyakit banyak wong-wong gede alias penggede negeri yang tak bisa berbuat banyak. Uang rakyat yang mestinya digunakan untuk menyejahterakan rakyat justeru dihisap dan dicuri. Kekayaan alam justru dijual kepada cukong-cukong asing, yang mestinya dikelola dengan baik untuk kemakmuran rakyat. Apakah secara subtansial gelar ‘wong’ secara utuh masih layak untuk disandang? Atau jangan-jangan hanya tinggal kulitnya, tanpa ruh dan segala atribut ruhaniahnya sebagai wong? <em></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Salam dari Frankfurt,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Yusri Fajar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">MA in Intercultural Anglophone Studies</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">School of Linguistics and Literatures</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;">Uni-Bayreuth, Bayern, Germany</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span>            </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=36&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/17/%e2%80%98wong%e2%80%99-don%e2%80%99t-be-indolent-to-become-%e2%80%98wong%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendekonstruksi Sentralisasi Sastra</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/mendekonstruksi-sentralisasi-sastra/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/mendekonstruksi-sentralisasi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 09:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Mendekonstruksi Sentralisasi Sastra Oleh Yusri Fajar (Penyair dan Pengajar Program Bahasa dan Sastra Unibraw Malang)   Prolog Eka Budianta, pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai penyair, menuturkan bahwa ketika umur 15 tahun, dia telah berkenalan dengan komunitas sastra di Kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (IKIP, sekarang Universitas Negeri Malang). Sebulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=25&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mendekonstruksi Sentralisasi Sastra</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh Yusri Fajar</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">(<em>Penyair dan Pengajar Program Bahasa dan Sastra Unibraw Malang</em>)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="IN">Prolog</span></strong><span lang="IN"><span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Eka Budianta, pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai penyair, menuturkan bahwa ketika umur 15 tahun, dia telah berkenalan dengan komunitas sastra di Kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (IKIP, sekarang Universitas Negeri Malang). Sebulan sekali di Perguruan Tinggi tersebut diadakan pembacaan puisi, pentas teater dan diskusi sastra dalam acara malam purnama. Saat itu dia berkenalan dengan para sastrawan Malang yang punya nama nasional seperti alm. Hasjim Amir, Jasso Winarto, dan Henri Suprianto yang mengajaknya berlatih membaca puisi dan pentas. Menurut Eka, sejak dulu kala, kota Malang sudah punya sanggar seni lukis, seni tari dan kelompok-kelompok baca puisi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Awal tahun 2001 di Universitas Muhammadiyah Malang, saya pernah menghadiri acara bedah puisi yang didahului dengan pembacaan puisi oleh beberapa peserta yang hadir. Pembicaraan tidak hanya terpusat pada apresiasi teks puisi baik dari aspek instrinsik maupun ekstrinsik namun juga melebar pada diskursus determinasi dan resistensi komunitas dalam kaitannya dengan proses kreatif. Saya melihat ada kegairahan dari para pegiat sastra yang datang meski saya juga sekaligus mempertanyakan sejauh mana kegairahan itu akan terus menyala. Di forum itu saya bertemu dengan penyair muda Malang, Ragil Sukriwul, dan pegiat teater jebolan ISI yogyakarta, Jumali, yang dua-tiga tahun berikutnya sering saya jumpai dalam diskusi-diskusi pasca pentas teater dan beberapa event sastra dan budaya lainnya di Malang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tahun 2004-an di Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya, saya bersama beberapa mahasiswa membidani kelahiran komunitas kesenian bernama <em>teater O</em> ( kini berubah nama menjadi <em>teater Lingkar</em>) yang pada perjalanannya tidak hanya berkonsentrasi pada proses kreatif berteater tetapi juga bersastra. Beberapa kegiatan pembacaan puisi, bedah prosa, menghadirkan sastrawan, sampai mengadakan sayembara penulisan puisi pernah dilakukan. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang bergiat di komunitas tersebut pada perjalanannya juga mampu mempublikasikan puisi-puisinya di media masa. Geliat komunitas sastra selanjutnya saya temukan di kegiatan “arisan reboan (karena dilakukan malam rabu)” di Unibraw, yang di dalamnya berkumpul para pegiat teater dan pegiat sastra yang saling bergantian membaca puisi, bikin <em>short performance</em>, dan juga menggelar diskusi. Sastra saya lihat menggeliat di sana meskipun pada dasarnya geliat itu tak harus bertumpu pada ada dan tidak adanya sebuah komunitas. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menurut saya, jika sastra ingin dimasyarakatkan dan ‘dibudidayakan’, gelombang sastra terpusat, bertumpu pada wilayah-wilayah tertentu, dan terlalu bersandar pada eksistensi para sastrawan tua atau yang sudah punya ‘nama’ sudah saatnya ‘dideskontruksi’. Karya sastra bisa lahir dari siapapun dan manapun termasuk dari wilayah yang tak dilihat dan kurang diperhitungkan. Di tengah hutan rimba yang jauh dari keramaian bisa jadi banyak bunga bagus dan menakjubkan, tetapi karena tak ada orang yang melihat maka bunga dan tanaman tadi tak terekspos keluar meskipun pada hakekatnya ia tetap sebagai ciptaan yang indah dan bagus. Karya bagus bisa lahir dari penulis tak terkenal dan dari daerah yang diremehkan. Kualitas karya juga tak bisa digaransi seratus persen oleh usia pengarang. Oleh karena itu gelombang dan geliat sastra itu harus dilihat sebagai kontruksi yang bisa hidup di berbagai habitat manusia dengan wilayah menyebar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Namun ‘dekonstruksi’ sentralitas sastra dan penggairahan kehidupan sastra di wilayah-wilayah ‘terpinggirkan’ dari peta besar sastra sesungguhnya bukan persoalan sederhana. Gerakan dan karya-karya sastra pedalaman yang sempat menarik perhatian karena semangat “revitalisasi sastra pedalaman” misalnya, sebagaimana diungkapkan Faruk, ternyata tak memiliki perbedaan signifikan dengan karya-karya dari pesisir dan tak mampu melahirkan revolusi bersastra dan cara berkesusastraan yang mandiri. Bahkan menurut pengamatan saya kini sastra pedalaman sedang mengalami hibernasi. Secara kultural bisa dikatakan belum mengakar dan belum mampu mendorong perubahan signifikan. Terlepas dari penilaian ini, minimal sastra pedalaman telah meletakkan pondasi <span> </span>untuk melakukan <em>counter </em>hegemoni dan melecut generasi mutakhir dari daerah-daerah untuk terus bereskplorasi meski ‘politik ordinasi dan subordinasi’ terus membayangi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Post-modernisme memang mengisyaratkan sesuatu yang menyebar, tidak terpusat dan terkungkung mainstream tertentu. Dan menurut saya, di negeri yang plural seperti Indonesia, sesuatu yang terpusat dan seragam justru memang sangat kontraproduktif dengan hakekat keberagaman dan keserbamungkinan cara bersastra. Oleh karena itu warna dan gelombang sastra dari berbagai daerah dengan penulis-penulis muda perlu dibaca dengan seksama.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Memintal karya ‘tanpa sentral’?</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perjalanan panjang dunia kesusastraan diwarnai konstruksi dan dekontruksi dalam lingkaran aliran sastra pada setiap zaman berbeda. Strukturalisme dan post strukturalisme, humanisme universal dan realis sosialis-revolusioner, sastra tekstual dan kontekstual, absurditas dan realitas-empiris, mencatatkan tensi-tensi ketegangan yang meramaikan dan memperkaya dunia sastra. Posisi para penyair dalam menanggapi fenomena lokal dan global di sekitarnya begitu beragam dan sepertinya mereka masih berada pada konteks <span> </span>pencarian ‘diri’ sehingga tidak mengherankan jika terjadi mimikri di sana -sini dan terdapat banyak kutub sastra.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dunia subjektif individu dan teologi sastra “sufistik” misalnya, adalah dua buah warna yang dalam periode sastra pernah menjadi sentral dan hingga kini masih banyak penulis yang menjadikannya sebagai kiblat. Kecenderungan pertama mengkoptasi puisi sebatas struktur dan permainan semiotika, mistisisme linguistik belaka. Konteks hanyalah sumber dari penanda dan petanda bahasa. Sementara sastra sufistik membangun kontemplasi atas kekuatan <em>supreme</em> di luar diri manusia. Domain vertikal begitu kuat sehingga terkesan menegasikan relasi horizontal kontekstual. Realisme sosialis revolusioner menjadi kehilangan tempat pada puisi-puisi teologi profetik semacam yang ditulis oleh Abdul hadi WM, Amien Wangsitalaja, dan beberapa lainnya. Di barat, T.S. Elliot, meski dengan basis dan persperktif berbeda, mengesplorasi sesuatu yang ‘metafisis’ yang secara semangat memiliki kesamaan. Lalu bagaimana membaca karya sastra sastrawan-sastrawan muda Malang?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Karya-karya beberapa sastrawan muda Malang sepertinya tengah berada pada kisaran pencarian (eksperimentasi) <em>stereotype</em> estetis dan isi dalam dialektika latar perkembangan sastra yang melingkupinya. Hal ini wajar mengingat sejarah panjang kesusastraan Indonesia tak bisa dihindarkan dari warna ‘kolonial’ yang melahirkan kekuasaan sentral. Mimikri menjadi bagian reflektif dari memori sadar dan alam bawah sadar pengarang atas konstruksi mapan yang datang sebelumnya. Terlebih lagi dominasi dan berbagai gaya sastra, dengan dukungan kekuasaan media yang teramat sulit dihindari oleh mereka. Karena itu, dari pembacaan berulang dan seksama, saya dihadapkan pada peta tak purna dari ‘kemutakhiran’ karya-karya mereka. Peta yang menuntut kontinyuitas penelusuran ulang. Namun demikian, karya-karya sastrawan muda Malang perlu dikritisi dan didekati dengan perspektif objektif agar realitas-realitas yang saya sebutkan di atas tidak mereduksi subtansi kekuatan karya mereka.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Puisi-puisi Abdul Mukhid penyair muda Malang yang terkumpul dalam antologi tunggal “<em>Tulislah Namaku dengan Abu</em>” (2006) mengantarkan saya pada pengembaraan sastra “tanpa pusat”, tanpa mainstream, melanglang buana dari satu ruang ke ruang lainnya tanpa pernah berlama-lama di salah satunya. Mukhid suatu kesempatan terkesan subjektif, berasyik mansyuk dengan eksistensinya sebagai upaya membangun dialektika sunyi; seperti terlihat dalam puisi-puisinya yang berjudul <em>Tulislah Namaku dengan Abu, Dialog imajiner Dengan Caligula, Catatan Sepi 1, 2, 3</em>, <em><span> </span>Tanda Tanya Agung</em>. Tapi dalam puisi lainnya Mukhid justru menebar kontekstualitas sosio-politik-kultural dengan diksi lugas seperti dalam puisinya, <em>56 Tahun Indonesia (Masih) Cemas </em>dan<em> Berdamai dengan Kenyataan.</em> Sementara di sudut lainnya, <span> </span>sentuhan teologi ketuhanan Mukhid terekam dalam <em>Tuhan Maafkan Aku, Tak Semua </em>dan<em> Bukalah Bilik Hatimu.</em> Mukhid sepertinya ingin berkelana dalam beragam genre, meski mungkin tak disadarinya. Sebuah pilihan berpuisi yang merdeka meski tanpa ciri. Cara berpuisi Mukhid hampir merambah sebagian besar penyair muda Malang yang karyanya pernah saya baca.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Ragil Sukriwul ‘mendekontruksi’ lokalitas dengan menabur beberapa diksi bahasa Inggris ke dalam puisinya yang sebenarnya mayoritas dia tulis dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya, Ragil ‘tak menganggap’ petanda ‘global’ sebagai ancaman yang akan memarginalkan warna bahasa lokal (Indonesia) dan pemaknaannya. Ada kesadaran dan keberanian untuk mengelaborasikan petanda lokal dan global dalam puisi karena batas budaya telah remuk dalam desa global (<em>global village</em>). Salah satu puisinya berjudul “<em>Lost</em>”, dan puisinya yang berjudul <em>“Jangan Kartu Pos I”</em> berisi petanda global (Bahasa Inggris) yang saya maksudkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berceritalah tentang perutmu yang masih saja berteriak</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Meski telah disumpal senampan Pizza, tentang jemari</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Telunjukmu yang berungkali tersayat karena ngotot ingin</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Masak </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sendiri,</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">(Juga biografi lelaki negeri mana saja yang pergi dan datang di kencanmu)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ceritakan saja meski selarik puisi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="IN">I was there&#8230;! I’m very Happy</span></em><span lang="IN">!” teriakan asingmu ini</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hanya jadi</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Barisan abjad-abjad penuh cemas di sini</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jangan kirim kartu pos lagi: benci!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kirimkan saja aku perih.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lebih jauh, dengan gaya bangunan struktur dalam beberapa puisinya yang seperti mengajak kita untuk kembali melihat karya penyair Amerika E.E. Cumming dan penyair Sutardji Calzoum Bahri, Ragil juga sepertinya ingin meletakkan struktur bukan sebagai beban dalam berpuisi. Kata bisa digeser, ditata horisontal, vertikal, miring, dan tak lurus-rapi. Namun yang membedakan Ragil dan Sutardji adalah bahwa sebenarnya Ragil tak sepenuhnya ingin membebaskan kata dari makna sebagaimana Sutardji. Lihat saja dalam beberapa puisinya, seperti <em>Di Antara yang Datang dan Pergi </em>dan <em>Menggambar Bulan, </em>Ragil nampak masih bersetia dengan relasi makna dalam kata yang merajut puisinya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tegar Prajaksa, Penyair muda yang sedang kuliah di jurusan sastra Inggris Universitas Brawijaya Malang, mendekontruksi struktur kata dalam puisi dengan melakukan pemecahan dan penyatuan suku kata sebagaimana dilakukan oleh penyair sekaligus pelukis dan pemahat Jerman Kurt Schwitters (1887-1948). Tegar melakukan dekonstruksi itu dalam puisinya <em>Kontemporer Cinta.</em> Tegar lalu dengan liar juga mendekontruksi sistem kultur ‘tabu’ dengan menghadirkan kata vagina dalam puisinya: <em>Rengek Bocah Lima Tahun.</em> Meski dalam banyak puisinya Tegar cenderung membawa kata dalam permainan strukur bebas, ia ternyata juga tak melepaskan diri dari godaan konteks di luar dirinya sebagai muatan yang mendahului penciptaan. Puisi Berjudul <em>Lapindo</em>, yang hanya berisi huruf 0, dan <em>Hamid Mencari Iskandar</em> bisa menjadi bukti.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sementara dalam dunia prosa, nampak dalam cerpen Corry Atur, cerpenis perempuan yang masih muda dan sedang kuliah di Program Bahasa dan Sastra Unibraw Malang, ketegangan mitos dalam tradisi dan elemen modernitas justru berusaha dikolaborasikan dengan tujuan menghadirkan bentuk yang tak terpusat. Ada upaya membangun ‘ideologi’ yang tidak semata-mata berkiblat pada tradisi dan juga tidak serta-merta mengagungkan keilmiahan ‘modernitas’ dalam salah satu unsur sastra (<em>literary devices</em>). Corry yang telah lama tinggal di Malang memang menggunakan tradisi, dalam hal ini pernik-pernik mitologi, untuk membangun cerita dengan atmosfer modern. Folklore tentang Coban Rondo (salah satu tempat wisata di Malang) misalnya, yang dia hadirkan untuk menawarkan benang merah cerita yang dia tulis menunjukkan relasi kutub sastra sehingga tercipta medan magnit antar satu dengan yang lainnya. Hal ini sungguh menarik karena dalam wacana post-modernisme dua entitas yang begitu berbeda dimungkinkan bisa menjadi sumber inspirasi yang justru saling melengkapi, mengisi, bahkan mendekonstruksi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan begitu proses kreatif bakal mendapatkan ‘kebebasan’ dan keliarannya, seperti penggalan puisi Skizoprenia karya Miza, penyair dan mahasiswa di Program Bahasa dan Sastra Unibraw.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam keliaran dan kegilaan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sesungguhnya tangis tak henti </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mendera</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lalu dengan sengaja </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengapungkan diri di tengah laut</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Biar dikoyak-koyak hiu</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 37.4pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Epilog</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saya tidak berpretensi bahwa pembacaan saya atas beberapa sastrawan muda Malang tersebut di atas sudah representasif. Identifikasi dan pemetaan sastra di Malang membutuhkan proses yang tidak sekali jadi. Di luar itu, upaya untuk menjadikan gelombang sastra di Malang sebagai bagian revitalisasi dan perayaan sastra perlu terus mendapatkan apresiasi dan dukungan. Sastra yang terpusat dan dipusatkan, berada di atas menara gading dan menegasikan potensi sastra di daerah-daerah akan menjadikan berbagai kemungkinan kreativitas menjadi ‘terbatas’. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Sengkaling, Malang, Desember 2007</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">            </span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=25&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/mendekonstruksi-sentralisasi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Revitalisasi (Pilihan) Sastra di tengah Pragmatisme Masyarakat</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/revitalisasi-pilihan-sastra-di-tengah-pragmatisme-masyarakat/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/revitalisasi-pilihan-sastra-di-tengah-pragmatisme-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 09:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Revitalisasi (Pilihan) Sastra di tengah Pragmatisme Masyarakat Oleh Yusri Fajar (Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya)   I             Ada persepsi keliru dalam masyarakat yang perlu diluruskan, yaitu siswa di kelas eksakta (ilmu pasti) memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang berada di kelas humaniora, seperti sastra dan bahasa. Perspesi ini memengaruhi berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=21&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Revitalisasi (Pilihan) Sastra di tengah Pragmatisme Masyarakat</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh Yusri Fajar</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">(<em>Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya</em>)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">I</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Ada persepsi keliru dalam masyarakat yang perlu diluruskan, yaitu siswa di kelas eksakta (ilmu pasti) memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang berada di kelas humaniora, seperti sastra dan bahasa. Perspesi ini memengaruhi berbagai kebijakan dalam pengembangan kompetensi, sarana dan prasarana, termasuk perlakuan terhadap siswa yang memilih bidang bidang humaniora. Para pendidik dan orang tua bahkan banyak yang mempertanyakan pilihan siswa atau anak mereka terhadap jurusan sastra. Mereka menganggap selain jurusan sastra adalah jurusan yang lulusannya ’sepi dari pekerjaan’, jurusan sastra juga hanya cocok untuk anak-anak yang tingkat kecerdasannya ’biasa saja’. Fenomena di Sekolah Menengah Atas misalnya, siswa di Jurusan Fisika atau Biologi ’(A1 dan A2) biasanya dipandang’ lebih mumpuni’ dari pada mereka yang ada di kelas bahasa (A4).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Padahal kecerdasan itu sifatnya ganda (<em>multiple intelegence</em>) yaitu meliputi kecerdasan matematis, kinestetik, bahasa, analitik, dan sebagainya. Maksudnya belum tentu seseorang yang memiliki kecerdasan matematik memiliki kecerdasan dalam bidang kinestetik. Lebih jauh, belum tentu juga seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang sastra memiliki kemampuan dalam bidang matematis. Pemahaman ini perlu ditekankan untuk memberikan apresiasi yang memadai terhadap kemampuan dan keunikan individu. Menerima minat dan bakat secara objektif dan proporsional berarti menghindarkan anggota masyarakat dari upaya mereduksi tujuan pendidikan yang secara mendasar berkaitan dengan upaya mencetak generasi seutuhnya, generasi yang mampu mengenali sisi kemanusiaan dan relasi sosialnya, bukan generasi yang hanya menjadi ’mesin teknis pragmatis’ dari tantangan zaman. Penghormatan atas keunikan individu berarti juga meletakkan potensi yang ada dalam diri secara lebih utuh, termasuk di sini asalah pemberian apresiasi terhadap pilihan sastra.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sastra sebagai sebuah disiplin ilmu dan karya dapat membangun kemanusiaan dan kebudayaan, memperhalus budi dan mendewasakan manusia, melahirkan masyarakat yang mampu berpikir mandiri dan berekspresi secara kreatif. Oleh karena itu karya sastra yang baik harus mampu mencediakiakan penalaran, menghaluskan akal budi, dan menggunggah hati para pembacanya. Upaya untuk memenuhi ketiga tuntutan dari sisi pembaca terintegrasi di dalam visi dan misi setipa sastrawan (Alwi, 2002).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Revitalisasi sastra secara umum memerlukan dukungan berbagai elemen, seperti pengajar, pengelola pendidikan, masyarakat, dan sarana prasarana. Seorang guru sastra menghadapi tantangan tidak hanya berkaitan dengan upaya peningkatan minat, apresiasi dan daya kritis peserta didik terhadap sastra tetapi juga pragmatisme mereka. Oleh karena itu seorang pengajar harus mampu meyakinkan peserta didik mereka bahwa sastra (baca: Inggris) akan memberikan kompetensi berbahasa dan konstribusi yang besar pada pembentukan kepribadian (<em>character building</em>) terutama terkait dengan entitas nilai-nilai dan pesan-pesan moral- universal –yanga terkandung di dalamnya, serta membangun nalar kritis dalam berwacana. Siswa sedari awal juga perlu mengetahui visi pembelajaran sastra, kompetensi yang akan mereka dapatkan dan tantangan yang akan dihadapi. Pengelola pendidikan juga dituntut untuk memberikan perhatian secara memadai terhadap jurusan humaniora dengan mendukung pengadaan sarana dan prasarananya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Lebih jauh, pemberian penjelasan yang terarah tentang kompetensi yang bisa diperoleh siswa di jurusan sastra Inggris dan peluang kerja yang bisa diraih perlu dilakukan secara objektif dan benar. Misalnya, secara sederhana saja, jika mahasiswa menanyakan peluang kerja yang bisa<span>  </span>diraih, dia diminta melacak lowongan-lowongan kerja di berbagai instansi seperti Departemen Luar Negeri, Departemen Pendidikan Nasional Depkominfo, dst yang memberikan kesempatan kepada lulusan <strong>S1 Sastra Inggris </strong>(perlu dicatat bahwa dalam pengumunan lowongan pekerjaan tersebut tidak pernah ada dikotomi antara sastra dan linguistik, <strong>S1 Sastra Inggris </strong>yang dicari). Dengan demikian persepsi lulusan sastra Inggris tidak <em>marketable</em> tidak didasarkan pada data dan alasan yang bisa diterima secara nalar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">II</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Dunia sastra adalah dunia yang menggunakan medium bahasa. Oleh karena itu <span> </span>seorang sastrawan dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam bidang bahasa dan dalam mengekspresikan serta mengeksplorasi ide dalam karya yang ia tulis. Pengarang yang kemampuan berbahasanya kurang memadai pasti tidak akan mampu menyampaikan gagasannya secara baik. Cerpenis Indraswari Ibrahim pernah bercerita kepada saya bahwa cepen-cerpen dia yang dikirimkan ke majalah zaman pada tahun 70-an dinilai Putu Wijaya’, sang redaktur sastra majalah tersebut, bahasanya ’kurang renyah’ dan kurang enak dibaca. Demikian pula pembaca, apresiator, pemerhati sastra juga dituntut untuk memiliki kemampuan berbahasa dan analisis yang baik. Seorang yang tengah menggeluti sastra selalu dihadapkan pada kompleksitas bahasa yang menarik untuk dicerna. Ibaratnya bahasa dan sastra adalah dua keping mata uang yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu menurut Sayuti (2002), diperlukan ideologi dalam pelajaran bahasa dan sastra yang mengakui bahwa pelajaran sastra adalah upaya ’memelihara bahasa’. Moody (1997) lebih jauh menyatakan bahwa pengajaran sastra berperan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. Namun demikian, sastra tidak hanya berhenti pada dinamika bahasa tetapi menyelam lebih jauh dalam ’<em>social milieu’</em> yang diciptakan pengarangnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Putu wijaya (1996) menyatakan bahwa sastra bukan hanya tulisan dan bukan hanya buku-buku. Sastra adalah pengalaman spiritual yang diungkapkan dengan kata-kata yang plastis sehingga memiliki daya magis yang dikemas dalam bentuk-bentuk cerita rekaan atau semi rekaan sehingga merupakan lukisan-lukisan kehidupan yang merupakan cerminan dari kehidupan nyata manusia. Sastra dengan demikian adalah sebuah senjata kemanusiaan yang ditembakkan sebagai upaya untuk memangkas batas-batas yang memisahkan manusia dan sedari awal sastra memang sudah melihat kemanusiaan sebagai lahan yang sangat kaya dan luas jangkauannya.<span>            </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Melalui sastra sering diketahui keadaan, cuplikan-cuplikan kehidupan masyarakat, seperti dialami, dicermati, ditangkap dan direka oleh pengarang. Bahkan seringkali suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca sebuah novel atau sebiji sajak darispada membaca sebuah laporan penelitian ilmiah. Seringkali karya satra lebih mudah dan cepat samapai di hati, di rasa, daripada laporan ilmiah (Sayuti, 2002). Secara sosiologis, karya sastra dapat dipandang sebagai <em>social stock of knowledge</em> (Daniel Dhakidae, 1982), yakni tempat terhimpunnya pengetahuan tantang masyarakat, dan kita senantiasa dapat menimbanya. Dalam totalitasnya karya sastra seringkali menunjukkan adanya relevansi sosial. <em>Senja di Jakarta </em><span> </span>karya Mochtar Lubis atau sajak-sajak Rendra yang terhimpun dalam <em>Potret Pembangunan dalam Puisi </em>atau <em>Blues untuk Bonie, </em>atau sajak-sajak Emha Ainun Najib dalam <em>Nyanyian Gelandangan </em>dapat disebut, di samping karya-karya lain, sebagai contoh-contoh yang nyata.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lalu mengapa membaca sastra? Mengapa membaca novel? Demikian pertanyaan yang diajukan Allan Wendnt untuk mengawali pengantarnya terhadap novel Thomas Hardy, <em>The Mayor of Casterbridge. </em>Novel khususnya, dan sastra, umunya, memberi kita pengetahuan dengan cara yang mengejutkan, juga membuat kita pribadi yang berbeda. Sejarah biasanya membawa kita untuk menyaksikan peristiwa dari luar, dari suatu jarak, sebagai pengamat. Dengan novel kita dapat mengambil bagian dalam berbagai peristiwa yang mendebarkan tanpa dikenal resiko gawat dari peristiwa bersangkutan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kehadiran novel <em>Madam Bovary</em> karya Gustavo Faubert menghebohkan kelas menegah prancis karena novel itu dengan keras menelajangi ambivalensi moral kelas borjuis Prancis. Sementara itu, novel <em>Uncle Toms Cabin</em> dengan jitu mengecam perbudakan di AS hingga selepas terbitnya novel itu terjadi diskusi yang panjang dan perbincangan yang melahirkan perlawanan anti Rasisme di AS. Di sisi lain, novel Arthur Koestler, <em>Darkness at Noon,</em> menusuk langsung jantung komunisme dan sosialisme di Eropa hingga menimbulkan perpecahan di kalangan mereka. Sementara, kemunafikan moralitas kulit putih Belanda mendapat hantaman keras dengan lahirnya novel <em>Max Havelar</em> karangan Multatuli yang memperkuat gerakan politik etik Hindia Belanda (Harjono, 2002).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Selain menyelam dalam dunia bahasa, sastra juga memberikan peluang yang amat besar bagi perkembangan daya kritis peminatnya. Analisis-analisis yang dilakukan atas karya-karya sastra, baik prosa, drama, puisi dan genre sastra lainnya, akan memperkaya wacana pembelajarnya, memperkuat kemampuan argumentasinya dan mendorong untuk menyampaikan opini dalam dialektika yang tidak <em>monolitik</em>. Tentu saja, pembelajaran sastra harus dilakukan dengan menarik, berbobot dan menyenangkan serta mendapatkan dukungan dari kegiatan ’ekstra kurikuler’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">IV</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Ardjianto (1997) dalam <em>Kakilangit</em> menjelaskan tentang kegiatan sastra yang menarik dan beragam: diskusi sastra, bedah buku sastra, panggung puisi, seminar, pementasan drama, pembacaan cerepen, lomba bidang sastra dan mengundang sastrawan. Kegiatan tersebut ditunjang dengan berbagai media penunjang seperti penerbitan majalah, mading, penerbitan antologi cerpen dan puisi. Tentu saja di Jurusan Sastra Inggris kegiatan-kegiatan semacam ini akan mendukung upaya peningkatan minat siswa dan memiliki konstribusi positif bagi penciptaan atmosfer pembelajaran sastra. Rendahnya minat siswa terhadap sastra bisa jadi disebabkan dinamika kegiatan sastra yang hanya berhenti di kelas, sementara kegiatan informal belum mendapatkan perhatian yang memadai.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Slamet Sukirnanto (2002) menyatakan bahwa jika minat kepada sastra itu tumbuh karena dorongan menekuni pelajaran sastra di sekolah, dapat disimpulkan bahwa: <em>pertama, </em>Bapak/Ibu pengajar sastra telah berhasil, tidak hanya menanamkan pengertian dan pengetahuan sastra pada siswa, tetapi para pengajar telah berhasil menanamkan apresiasi sastra pada siswa dan menggugah meinatnya pada bidang ini. <em>Kedua,</em> mungkin karena siswa memiliki bakat khusus dan ditunjang oleh ketekunannya sendiri, seorang siswa telah menggauli sastra sangat mendalam, melebihi potensi siswa lain.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pilihan siswa terhadap sastra atau linguistik berarti mencerminkan ’ketertarikan’ dan kecenderungan mereka. Namun begitu patut dipertanyakan, apakah pilihan mereka atas sastra dan linguistik memang didasarkan pada pemahaman yang tepat atas kedua konsentrasi tersebut. Jika pilihan itu didasarkan pada asumsi bahwa kedua konsentrasi itu memberikan ruang bagi pencapaian kompetensi berbahasa Inggris maka asumsi itu benar adanya. Artinya bahwa baik lingusitik dan sastra yang materi-materinya hampir mayoritas berbahasa Inggris dan dalam penyampaian materi serta diskusi di kelas selalu menggunakan medium bahasa Inggris, memang memberi bekal kompetensi berbahasa. Tetapi jika pilihan tertentu didasarkan pada asumsi ’siap kerja’ yang lebih baik di bandingkan konsentrasi yang lain, maka perlu dilakukan pengkajian ulang. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tesis bahwa alumnus jurusan sastra Inggris tidak akan mampu bersaing dalam dunia kerja, sebenarnya telah gugur dengan sendirinya dengan melihat data dalam <em>tracer study</em>. Ada dua alumnus jurusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya yang bekerja di Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, satu dari konsentrasi sastra dan satu dari konsentrasi linguistik. Dua orang alumni lain dari jurusan yang sama bekerja sebagai wartawan di Jawa Pos Surabaya. Seorang alumnus yang menulis skripsi tentang konstruksi masyarakat patriakal dalam sebuah karya sastra, bekerja sebagai pengajar di <em>English First</em>. Barangkali penelusuran ini bisa menjadi dasar untuk melihat masa depan lulusan sastra.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Seperti yang disampaikan Budi Darma (2006), setidaknya Fakultas Sastra jurusan Inggris (baik sastra maupun linguistik: penulis) dapat membekali para lulusannya dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik untuk persiapan di pasaran kerja. Karena Fakultas sastra mengajarkan humaniora/the Humanities, dan ilmu-ilmu ini mengajarkan masalah-masalah kemanusian, maka Fakultas Sastra dapat mengantarkan lulusannya ke masyarakat luas dengan mempergunakan kiat-kiat hubungan antar manusia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">V</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Persepsi masyarakat bahwa kecerdasan siswa di jurusan eksakta (ilmu pasti) lebih utama dibandingkan siswa di jurusan humaniora perlu diluruskan. Hal ini terkait dengan teori kecerdasan ganda manusia. Juga, penilaian mereka terhadap pilihan jurusan humaniora sebagai pilihan yang patut dipertanyakan, mestinya justru penilaian itu sendiri yang perlu dipertanyakan. Sastra dan Bahasa adalah dua entitas yang saling berkaitan. Tanpa bahasa, sastra akan kehilangan medium penyampaiannya. Tanpa sastra, bahasa juga akan kehilangan ruang eksplorasi estetisnya. Sastra mengajari pembelajarnya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan dan ajaran-ajaran yang ada didalamnya akan memberikan pengetahuan untuk bekal mereka hidup dalam masyarakat dan di pangsa kerja. Memberikan justifikasi ’prematur’ dan tidak benar terhadap minat atas sastra, proses pembelajaran sastra, kompetensi yang didapatkan, dan peluang lulusan sastra di dunia kerja selain berpotensi mereduksi proses humanisasi manusia, juga terkesan menegasikan kekuatan ’metafisis’ di luar diri manusia. Akhirnya, meski tidak mudah menghadapi pragmatisme ’sempit’ masyarakat dan persepsi mereka atas sastra, upaya untuk memberikan pencerahan secara perlahan harus tetap dilakukan. Apakah demikian? Mari didiskusikan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Denpasar, 9 Februari 2008<span>  </span>20.30</span></span></span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=21&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/revitalisasi-pilihan-sastra-di-tengah-pragmatisme-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/06/12/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/06/12/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 12:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/06/12/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=12&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jiwasusastra.files.wordpress.com/2008/09/img_0011.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-11" title="img_0011" src="http://jiwasusastra.files.wordpress.com/2008/09/img_0011.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=12&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/06/12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jiwasusastra.files.wordpress.com/2008/09/img_0011.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">img_0011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/25/10/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/25/10/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 11:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/25/10/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=10&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-9" src="http://jiwasusastra.files.wordpress.com/2008/08/img_0160.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=10&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/25/10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jiwasusastra.files.wordpress.com/2008/08/img_0160.jpg?w=225" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/14/hello-world/</link>
		<comments>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/14/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 10:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jiwasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=1&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jiwasusastra.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jiwasusastra.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jiwasusastra.wordpress.com&amp;blog=4506821&amp;post=1&amp;subd=jiwasusastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jiwasusastra.wordpress.com/2008/08/14/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2cf135ae9b22c11dcce2f734f214d0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jiwasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
