Jalan Kritik Sastra: Aplikasi Teori Poskolonial Hingga Ekokritik

Buku ini menyajikan berbagai naskah kritik/telaah karya-karya sastra Indonesia dan mancanegara dengan berbagai perspektif teori seperti kolonial/poskolonial, neokolonialisme, gastrokritik (kajian kritik sastra kuliner), Identitas, diaspora dan geokritik, terorisme, sastra dan travel writing, dan ekokritik (kritik sastra lingkungan.

Cover Baru-Depan

Buku ini merupakan pilihan tepat bagi para pembaca yang ingin mengetahui bagaimana menulis kritik/telaah sastra. Beberapa naskah dalam buku ini merupakan pemenang lomba dalam berbagai sayembara kritik, seperti Lomba Kritik Sastra UGM 2017 (sebagai pemenang ke-2) dan lomba kritik sastra “Penularan Jassin” yang diadakan Majalah BASIS (sebagai pemenang ke-2 dan pemenang unggulan).

Cover baru Belakang

Menelaah dan menulis kritik atas karya-karya sastra mutakhir di Indonesia dan mancanegara adalah upaya menganalisis, menilai, mengapresiasi dan menimbang karya-karya sastra yang telah mewarnai perkembangan dunia sastra.

Penerbit: Beranda (Kelompok Intrans Publishing-Anggota IKAPI
Cetakan Pertama: Maret 2020
ISBN: 978-602-53281-9-0
Hal: xviii+128; 15,5 cm x 23 cm

Selamat membaca, dan turut menyemarakkan kritik sastra di Indonesia.

Tamu Kota Seoul

Sebuah Novel Karya Yusri Fajar

Penerbit: UB Press
Tahun Terbit: Desember, 2019
Tebal: xii+232 hlm.
ISBN: 978-602-432-907-5

cover tamu kota seoul depan

Undangan mengajar Sastra Indonesia di Seoul datang pada Jagat. Rintangan muncul sebelum keberangkatan. Beberapa orang menentang dan menghalangi kepergian Jagat. Mereka berusaha menghentikan langkah Jagat dan menggagalkan surat ijinnya. Di Seoul Jagat berjumpa dan bertetangga dengan perempuan cantik bernama Myung Hee, seorang dosen Sastra Korea, yang piawai menulis karya sastra namun didera masalah rumah tangga hingga hatinya penuh luka. Kehadiran Jagat membuat Myung Hee merasakan hidupnya mulai dihiasi harapan dan kebahagiaan lagi. Sementara, adaptasi Jagat pada kehidupan dan dunia kampus di Seoul tak bisa dilepaskan dari kebaikan Myung Hee. Mereka menjadi dekat dan sempat berkolaborasi dalam mata kuliah sastra bandingan Indonesia-Korea. Sebagai dosen tamu, Jagat merasakan pahit getir kehidupan dan sistem akademik yang tak seindah puisi romantis dan tak seidealis novel-novel politik yang diajarkannya. Beberapa mahasiswanya melampiaskan ketidakpuasaan karena nilai kuliah, yang Jagat berikan, mengecewakan. Bahkan, Jagat sempat terancam deportasi di awal-awal kedatangannya, karena ia dianggap melanggar aturan pemerintah Korea Selatan. Jagat dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sang liyan oleh beberapa orang Korea yang marah dan benci padanya, seperti oleh seorang gadis Korea yang menuduh Jagat telah menjadikannya sebagai obyek. Badai makin kencang ketika Kanti, istrinya, memaksa pulang ke Indonesia, dan Puitikawati, anaknya, bertahan di Seoul, tetapi tergulung gelombang K-Pop dan rindu pada Dong Hun, mahasiswa Korea, yang mulai menempati relung hatinya, namun meninggalkannya demi mengikuti wajib militer. Puitikawati juga memprotes kedekatan Jagat dengan Myung Hee. Jalan Jagat sebagai dosen tamu di Seoul ternyata penuh liku. Ia berada di antara ketidaknyamanan sebagai pendatang dan tanggung jawab serta tugas sebagai dosen tamu. Jagat menyimpan tanya apakah ia akan bisa melanjutkan hidup dan terus mengajar sastra di Seoul atau harus pulang ke Indonesia.

Selamat membaca, selamat mengarungi kehidupan dosen tamu sastra Indonesia di Seoul.

Budaya Kekerasan di Kampus

Dimuat di KOMPAS, 21 Februari 2014

BUDAYA KEKERASAN DI KAMPUS

OLEH YUSRI FAJAR
Dosen Fakultas Ilmu Budaya UB Malang

Masih ada korban kekerasan dalam Ospek di tahun 2014 ini? Budaya kekerasan dalam Ospek nampaknya belum sirna dari dunia kampus. Tragedi meninggalnya mahasiswa baru ITN Malang pada tahun 2013 yang ditengarai karena perlakuan kasar seniornya menjadi penanda bahwa ada oknum kelompok intelektual yang mempraktekkan budaya kekerasan. Jika ditelisik, tragedi yang terjadi dari waktu ke waktu mengindikasikan pola orientasi bernuansa kekerasan di kampus-kampus tertentu telah dilakukan dari satu angkatan ke angkatan lainnya secara turun temurun.

Alih-alih mentrasformasikan nilai-nilai akademis, Ospek berhari-hari justru menciptakan lanskap kekerasan fisik yang jauh dari karakteristik keilmuan yang menjunjung tinggi kebenaran dan kesantunan. Dunia kemahasiswaan yang kurang tergarap dan diperhatikan seringkali disebabkan fokus yang lebih ke bidang akademik seperti perkuliahan dan praktikum. Akibatnya kegiatan kemahasiswaan yang terkait pembentukan karakter melalui kegiatan kemahasiswaan kurang mendapatkan evaluasi, dukungan dan kontrol yang memadai.

Menanggapi tragedi meninggalnya mahasiswa ITN Malang dan pelaksanaan Ospek yang berkepanjangan, Dirjen Dikti mengeluarkan surat edaran Nomor: 1259/E.E3/DT/2013 tertanggal 13 Desember 2013. Dalam surat tersebut pimpinan perguruan tinggi diharapkan, sebagaimana tertuang dalam empat poin dalam surat tersebut, 1) Memberikan pembinaan kemahasiswaan yang berorientasi pada pendidikan karakter; 2) memantau setiap kegiatan akademik, yang bersifat intrakurikuler, kurikuler dan esktra kurikuler, dengan seksama, 3) menjalankan manajemen resiko pada kegiatan/program kemahasiswaan; dan 4) Menyusun pedoman akademik dan prosedur operasi baku kegiatan kemahasiswaan secara lengkap disertai sanksi akademik bila terjadi pelanggaran. Upaya untuk menghapus budaya kekerasan dalam masa orientasi pada awalnya mendapatkan resistensi dari para mahasiswa senior yang tak memiliki komitmen untuk berubah. Pembenahan secara komprehensif dalam berbagai kebijakan preventif untuk melawan kekerasan di kampus perlu melibatkan civitas akademika mulai pimpinan, dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan.

Memori dan Praktek Kekerasan

Ospek seringkali tak bisa dilepaskan dari penggunaan istilah berbinari oposisi yaitu ‘senior’ (untuk mahasiswa angkatan atas) dan ‘junior’ (digunakan untuk para mahasiswa baru). Istilah yang secara semiotik mengonstruksi pengelompokan dan pembedaan yang membawa akibat psikologis dan diskriminatif. Para senior yang diduga melakukan kekerasan adalah mereka yang pernah menjadi ‘junior’ dan memiliki memori sebagai korban kekerasan sebelumnya. Jika sebelumnya mereka merasa ‘inferior’ harus tunduk pada perlakukan para senior maka ketika menjadi senior mereka menggunakan memori mereka untuk melakukan kekerasan serupa ketika mereka menjadi panitia orientasi bagi mahasiswa baru. Memori dan pengalaman yang akan sangat berbahaya jika diterapkan ketika mereka menjadi pemimpin di hari depan. Bangsa ini membutuhkan generasi yang anti-kekerasan agar perbedaan bisa tetap dilihat sebagai keindahan.

Kelompok mahasiswa yang melakukan kekerasan fisik tak bisa lepas dari bayang-bayang memori kolektif ketika mereka pada tahun sebelumnya mendapatkan perlakukan serupa. Pada posisi superior mereka menerapkan kuasa absolut dan arogan atas adik-adik angkatannya dalam bentuk praktik kekerasan fisik (physical violence) dalam Ospek, seperti tindakan memukul, menyiksa, dan memberi hukuman berat secara fisik. Lebih jauh, kekerasan verbal (kekerasan simbolis) melalui bahasa dan bentuk-bentuknya seperti kata dan kalimat yang menghina, merendahkan, sampai mengejek fisik, juga harus dihindari. Baik kekerasan fisik dan simbolis akan memiliki dampak psikologis seperti trauma. Namun, ironisnya, bentuk-bentuk kekerasan seperti itu diamini dan didesain oleh para senior tanpa melakukan pengkajian secara kritis bahwa bentuk-bentuk perlakuan (treatment) semacam itu tak ada relevansinya dengan peningkatan kompetensi keilmuan dan soft skill para calon mahasiswa baru. Dalam panduan umum Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa baru yang dikeluarkan DIRJEN DIKTI Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan pada tahun 2003 jelas ditegaskan bahwa pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru dilakukan dengan semangat membimbing mahasiswa untuk beradaptasi dengan kehidupan akademik dan non akademik dengan semangat ‘percepatan’ tanpa kekerasan.

‘Kekerasan Sistemik’ dan Perubahan

Kehidupan kemahasiswaan di kampus perlu dibangun dengan mengedepankan intelektualitas, kreasi-kreasi yang mencerdaskan, bukan kreasi-kreasi yang berselebung perploncoan dengan karakteristik menekan, mengada-ada dan di luar daya kekuatan mahasiswa serta tak masuk akal. Tak ada korelasi antara Ospek bernuansa kekerasan dengan pencerahan kehidupan mahasiswa. Di sisi lain, upaya pembinaan tentu juga harus diiringi komitmen dari birokrat kampus untuk menghindari bentuk ‘kekerasan’ lain yang disebut Zizek (2008) sebagai kekerasan sistemik yang melibatkan kuasa dari satu entitas dominan dan dalam prakteknya justru tidak menggunakan kekerasaan fisik dan simbolis, tapi lebih mengarah pada praktek sistem dan kebijakan yang otoritatif dan hegemonik. Membangun dialog dengan mahasiswa bisa menjadi pilihan daripada melakukan tindakan-tindakan ‘represif’ dan ancaman untuk menghentikan daya kritis, ketikdakpuasan mahasiswa atas pengelolaan kampus, dan harapan-harapan mereka untuk transparansi dan menyampaikan aspirasi serta ‘terlibat’ dalam pengambilan kebijakan di kampus.

Banyak kampus sudah melakukan pembenahan secara signifikan terhadap berbagai kegiatan, baik akademik, kemahasiswaan dan kegiatan lainnya namun demikian perbaikan berkelanjutan, evaluasi dan pengawasan tetap perlu dilakukan agar kampus tidak menjadi panggung pertunjukan kekerasan terselubung.

Nilai Kearifan Lingkungan dan Eksploitasi Alam dalam Puisi-Puisi Kontemporer Indonesia

Dimuat dalam buku bunga Rampai “Mengangkat Batang Terendam: Telaah Perpuisian Melayu Nusantara Mutakhir” (Penerbit Dewan Kesenian Jambi, tahun 2012, ISBN: 978-979-1850-19-3) Halaman 179-194

Yusri Fajar
Jurusan Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Brawijaya Malang

I. Pendahuluan

Aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan

(Sembahyang Rumputan, Ahmadun Yosi Herfanda)

Banyak puisi Indonesia kontemporer menggunakan entitas alam sebagai sumber inspirasi proses kreatif, baik sebagai media konstruksi estetika bentuk hingga media menyampaikan ideologi ekologis. Puisi berbasis alam, secara estetik, misalnya, terefleksikan dalam bahasa majas, seperti metafora dan personifikasi yang menampilkan penanda-penanda alam. Sementara, muatan ideologi ekologis dalam puisi sebagai contoh tercermin pada muatan tematik puisi yang menilai, mengkritisi dan memasukkan nilai-nilai yang terkait dengan kondisi baik dan buruk alam sebagai akibat dari prilaku manusia. Narasi-narasi penyelamatan lingkungan dalam khasanah puisi Indonesia menjadi ‘counter’ terhadap berbagai (niat) penghancuran siklus biologis alam atas nama pembangunan dan perluasan modal yang terjadi tidak hanya di nusantara tapi juga di dunia.
Fenomena kerusakan alam tidak bisa dilepaskan dari perbuatan destruktif manusia. Sylvia Mayer menegaskan premis krisis lingkungan adalah krisis budaya (2006:211). Pendapat ini sangat beralasan karena manusia sebagai penentu arah kebudayaan seringkali memandang alam semata sebagai objek inferior yang digunakan untuk memenuhi nafsu manusia. Ketika manusia tak lagi memiliki budaya mencintai, menjaga dan melestarikan alam, maka berbagai krisis lingkungan bisa melanda. Perilaku destruktif atas alam turut dipengaruhi berbagai teks yang telah mengonsepsikan alam, lingkungan dan manusia dalam posisi yang diametral. Manifestasi dari paradigma yang tercantum dalam teks-teks ini bisa dilihat dari kebijakan para kapitalis dan imperialis dalam mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan keseimbangan hubungan manusia dan alam. Hutan yang rusak, laut dan sungai yang terkontaminasi zat kimia, tanah longsor, lumpur meluap adalah potret kerusakan lingkungan sebagai akibat imperialisme lingkungan dan perilaku destruktif tersebut.

Di tengah kerusakan alam akibat eksploitasi alam oleh para pemilik modal, puisi memberikan tanggapan melalui nilai-nilai kesadaran alam dan pesan-pesan pelestarian lingkungan. Pada konteks wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia, puisi-puisi Indonesia kontemporer memegang peranan penting, tidak hanya dalam merekam dinamika lingkungan, namun juga menyuarakan pelestariannya.
John Felstiner mempertanyakan kemampuan puisi dalam menyelamatkan bumi dari kerusakan dan kehancuran. Ia menulis pertanyaan kritis “Can poetry save the earth? (Dapatkah puisi menyelamatkan bumi?)” (2009:xiii) yang tentu saja menggugah tidak hanya penyair namun juga anggota seperti aktivis lingkungan dan para pengemban kebijakan terkait dengan lingkungan. Berkaitan dengan isu lingkungan yang hingga kini masih aktual pertanyaan apakah puisi-puisi Indonesia mutakhir merepresentasikan nilai-nilai kearifan lingkungan dan mengkritisi eksploitasi alam menarik untuk dijawab. Berkaitan dengan pertanyaan ini, jawaban terkait dengan nilai-nilai kearifan lingkungan apa yang terkandung dalam puisi-puisi kontemporer Indonesia juga perlu digali. Puisi memang bukan pendulum yang bisa langsung menjadi alat aksi lingkungan. Namun puisi bisa menjadi sumber nilai dan penyadaran bagi pembacanya yang kemudian bisa melakukan gerakan perubahan.
Untuk menelaah kandungan nilai-nilai kearifan terkait dengan isu lingkungan dan eksploitasi alam dalam puisi, makalah ini berpijak pada konsep kajian interdisipliner sastra, alam dan lingkungan. Penggunaan teori kritik sastra ekologis (literary ecocriticism) dimaksudkan untuk melihat sejauh mana puisi-puisi kontemporer Indonesia merespon relasi manusia dan alam dengan berbagai dinamikanya.Menurut Bertens (2008:200) fokus dari kitik ekologis dalam ranah sastra adalah pada kajian representasi-representasi alam dalam karya sastra, film, dan berbagai media lain seperti televisi; Bagaimana alam dikontruksikan dalam representasi tersebut menjadi salah satu penekanan kajian. Lebih jauh, hal yang menarik dari teori kritik sastra ekologis adalah, seperti disampaikan oleh Bertens, bagaimana para kritikus ekologis memiliki agenda ‘hijau’ (green agenda) yang dimanifestasikan dalam sebuah pemahaman sekaligus peringatan bahwa berbagai aktivitas manusia berpotensi memberikan ancaman terhadap lingkungan. Posisi para kritikus ekologis ini bisa juga dikaitkan dengan posisi pengarang sastra yang memiliki komitmen menulis teks-teks tentang pentingnya pelestarian lingkungan sebagai media perlawanan terhadap eksploitasi alam

Makalah ini bermaksud untuk mendeskripsikan representasi kearifan lingkungan dan eksploitasi alam dalam puisi-puisi Indonesia kontemporer. Beberapa puisi yang merepresentasikan alam dan kontestasinya dengan imperialis akan dianalisis dengan pendekatan kritik sastra lingkungan (literary ecocriticism). Puisi-puisi bertema dinamika lingkungan dan alam serta relasinya dengan manusia yang ditulis beberapa penyair seperti Akhudiat, D Zawawi Imron, Taufik Ismail, Ahmadun Yosi Hermanda, Nanang Suryadi, Hasan Aspahani, F. Azis Manna, Kusprihyanto Namma, dan Rini Intami akan dibahas dalam makalah ini.

Download versi lengkap artikel ini di bawah ini:
Nilai Kearifan Lingkungan dan Eksplotasi Alam dalam Puisi-Puisi Indonesia Mutakhir-Yusri Fajar-pdf

Narasi Pergulatan Tradisi Lokal dan Budaya Global

Esai Yusri Fajar
dimuat di Kompas, 1 November 2015

Narasi Pergulatan Tradisi Lokal dan Budaya Global

Data Buku
Judul: Anak-Anak Masa Lalu
Penulis: Damhuri Muhammad
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: I, Juni, 2015
Tebal: V+121halaman
ISBN: 978-979126046-6

Dalam jagad sastra, warna lokal menarik diperbincangkan bukan hanya karena keunikannya, tetapi juga karena warna lokal dapat membangun ciri khas dan identitas sebuah karya sastra. Pengetahuan dan pengalaman pengarang ketika bersinggungan dengan nilai-nilai tradisi dari khazanah budaya Indonesia yang multikultur memengaruhi narasi-narasi yang dituturkannya. Eksistensi nilai-nilai dan tradisi lokal di tengah gempuran kebudayaan global tergambar dalam buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad. Mitos, peristiwa supranatural, lanskap masyarakat rural berdialektika dengan modernisasi, kepentingan global dan perubahan cara pandang serta gaya hidup masyarakat.
Untuk menyibak dialektika nilai-nilai tradisional dengan eskpansi budaya global, Damhuri mengeksplorasi latar desa dan wilayah pinggiran dengan local wisdoms yang mengakar. Kota sebagai pusat hegemoni kekuasaan dan ekonomi ditampilkan sepintas untuk menunjukkan perbedaan dan menciptakan relasi dengan daerah-daerah di mana kearifan-kearifan lokal diamalkan. Meskipun Damhuri menyimpan fakta latar ruang sesungguhnya, tapi pembaca bisa mengaitkannya dengan wilayah di Indonesia yang mengalami dinamika serupa. Perhatian Damhuri pada tradisi lokal bisa dilihat dari strategi racikan penceritaan yang memadukan alur maju dan mundur. Alur mundur digunakan untuk menyingkap latar historis dan eksistensi tradisi lokal yang dioposisikan dengan kondisi kekinian yang dinarasikan melalui alur maju.

Benturan Tradisi dan Globalisasi
Dalam cerpen Orang-Orang Larenjang Damhuri bercerita tentang perkawinan sesama anggota suku yang menjadi pantangan bagi suku Larenjang. Akibatnya, mereka dihapus dari silsilah dan ahli waris suku. Warga Larenjang juga dikucilkan dari pergaulan antar suku. Lebih dari itu, di luar logika akal dan pembuktian ilmiah, para pelanggar perkawinan terlarang akan tertimpa musibah. Para pelanggar aturan tradisi merepresentasikan kelompok terdidik, yang mengenyam pendidikan tinggi sebagai hasil budaya global, dengan kultur berpikir logis dan ilmiah. Namun akhirnya, musibah menimpa pelanggar. Istri dan anak-anak tokoh yang memberontak meninggal.
Sementara itu, konflik antara orang yang ingin menjaga kesakralan kawasan lokal dengan orang-orang yang ingin menggunakannya sebagai sumber peruntungan tampak dalam cerpen Kepala Air. Penggunaan Lubuk yang sakral sebagai destinasi wisata dipandang para pemuka menguntungkan warga dan anak cucu. Sementara seorang sesepuh yang biasa dipanggil ‘Ku Imam” menilai alih fungsi dan komersialisasi lubuk itu akan mendatangkan maksiat, petaka dan menodai sakralitas daerah tersebut. Sebelumnya Banyak korban yang telah mati misterius di Lubuk penuh kekuatan supernatural tersebut. Ironisnya, Ku Imam dianggap menghalangi pembangunan. Dia dikriminalisasi dan dipenjarakan.
Kekuatan konflik-konflik dalam cerpen Damhuri memang dikonstruksi melalui benturan antara nilai-nilai kearifan lokal dan perilaku serta pemikiran yang terpengaruh budaya global. Dalam cerpen bertajuk Banun tokoh perempuan bernama Banun meyakini nilai-nilai lokal bertani. Tanah garapan harus dijaga dan digunakan sebagai basis swadaya. Namun tokoh-tokoh antagonis di desanya justru memandang Banun pelit dan kolot, tidak terbuka dengan dengan spirit globalisasi. Bagi mereka sawah bisa dijual untuk bekal mencari laba dengan cepat, atau modal menjadi TKI di negeri-negeri yang lebih menjanjikan secara ekonomi.

Politik, Pembangunan dan Kekuasaan
Tema politik di dalam buku ini juga dibalut dengan narasi mistis yang banyak dipercayai oleh masyarakat di daerah rural. Cerpen Luka Kecil di jari Kelingking mengisahkan pemuda kampung yang oleh penguasa dituduh PKI karena dia membaca buku-buku kiri yang dikoleksi ibunya. Ketika pemuda ini menjadi buronan, sang ibu mengalami luka kecil di jari kelingking. Banyak orang-orang dulu percaya bahwa musibah atau bencana ditandai dengan peristiwa tertentu yang korelasinya kadang tak bisa dicerna oleh akal. Isu kekerasan 1965 diracik Damhuri secara semiotik sebagai peristiwa yang melukai tidak hanya fisik tapi juga psikis.
Sementara isu pembangunan yang penuh dengan rumus dan kalkulasi matematis didekonstruksi oleh Damhuri melalui unsur mistis. Cerpen Anak-Anak Masa Lalu menuturkan pembangunan jembatan oleh seorang insinyur yang logikanya akan bertumpu pada hitungan-hitungan mekanistis untuk menghasilkan jembatan tangguh dan awet melalui bahan dan konstruksinya harus tepat. Ternyata sang insinyur memiliki kepercayaan mistis bahwa untuk membangun jembatan kuat, kepala-kepala bocah harus dimasukan dalam adonan bahan material sebagai tumbal. Perilaku ini menjungkirbalikkan rasionalitas dan logika eksakta yang selama ini dijunjung tinggi oleh para peneliti dunia teknik dan ilmu alam. Ketika malam arwah-arwah anak-anak yang dikorbankan itu menjerit dan merintih kesakitan.
Sementara itu, narasi kekuasaan lokal yang didapatkan melalui kekuatan mistis tercermin dalam cerpen Badar Besi. Cerita ini menjadi relevan dan menarik di era yang penuh dengan pasar akik. Badar besi merupakan batu yang dianggap memiliki kekuatan mistis. Siapa pun yang mengenakannya akan kebal. Perebutan badar besi yang ditaksir sangat mahal itu berujung konflik serius bagi para pemburunya. Seorang tukang cukur yang mendapatkan badar besi tanpa disengaja telah berubah nasib menjadi centeng los daging yang disegani para pemalak karena ia memiliki kesaktian berkat batu kramat itu.
Damhuri dengan demikian menghadirkan khazanah mistis dan nilai-nilai kearifan lokal dalam dua sisi berbeda. Di satu sisi, praktik-praktik mistik bisa destruktif dan merugikan seperti dalam cerpen Anak-Anak Masa Lalu. Di sisi lain, tradisi lokal memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat di era global yang mekanikal dan komersial.

Kolaborasi Antar Pekerja Seni: Strategi Komunitas Sastra dalam Membangun Jaringan Kesenian di Malang Raya

Dimuat dalam Buku Berjudul “Dinamika Budaya Indonesia dalam Pusaran Pasar Global” hlm 504-521 (Penerbit Ombak Yogyakarta, 20114)

Yusri Fajar, M.A.
Fredy Nugroho, M.Hum

Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Abstrak

Di Malang Raya, komunitas sastra memiliki jaringan yang luas dengan para pegiat seni di luar sastra. Keluasan jaringan ini telah menciptakan dinamika sastra lokal dan regional. Jaringan dan kolaborasi yang dibangun dengan seniman musik, teater dan seni rupa menjadi bagian strategi Komunitas sastra di Malang Raya untuk berkembang dan menciptakan ruang proses kreatif. Kolaborasi nyata yang ditunjukkan tidak hanya di panggung pertunjukan namun juga dalam produksi karya yang terekam dan terpublikasikan. Lebih jauh, kolaborasi antar pekerja seni ini juga terbangun dalam berbagai diskusi. Dengan demikian, iklim yang dibangun sesungguhnya tidak semata berada pada konteks teknis penciptaan namun juga melalui dialektika wacana dan pemikiran. Penerbitan antologi puisi yang di dalamnya melibatkan seniman perupa Malang untuk memberikan ilustrasi baik di sampul dan dalam halaman buku membuktikan kolaborasi seniman rupa dan sastrawan pada konteks ini menggambarkan proses interpretasi dan sinkronisasi makna dari karya yang dikolaborasikan. Sementara itu, adaptasi karya sastra sastrawan Malang (puisi) ke dalam lagu yang kemudian dipentaskan, direkam dan disebarluarkan dalam bentuk VCD secara komersil namun melalui distribusi yang independen menunjukkan kerja kolaboratif yang sinergis. Karya-karya yang dihasilkan tersebut tidak hanya didesimenasikan di Malang namun juga di banyak komunitas kesenian di Jawa Timur.

Kata Kunci: Komunitas Sastra, Strategi Berkesenian, Kolaborasi Antar Pekerja Seni

Download artikel lengkap pdf berikut ini:
Kolaborasi Antar Pekerja Seni- Strategi Komunitas Sastra dalam Proses Kreatif di Malang Raya- Yusri Fajar dan Fredy Nugroho

Makanan, Relasi Sosial, dan Identitas

Artikel Yusri Fajar

Dimuat dalam Majalah BASIS, nomor 7-8 (Juli-Agustus), tahun ke-66, 2017
(Artikel ini merupakan pemenang ke-2 Lomba Kritik Sastra Penularan Jassin 2017 yang diselenggarakan oleh Majalah Basis dan Bilik Literasi Solo tahun 2017)

Ungkapan “kamu adalah apa yang kamu makan” seperti mengajak saya untuk mengenali diri melalui berbagai makanan yang selama ini saya sukai. Ungkapan tersebut jika diartikan memiliki makna bahwa identitas seseorang dan makanan saling berkaitan. Jika anda datang ke Sulawesi Selatan untuk menghadiri acara sastra, kemudian anda memilih mampir di warung coto Makassar, bukan di McDonald, maka orang-orang sedikit banyak akan bisa mengenali anda dari pilihan makanan anda. Makanan bukan hanya berkorelasi dengan kebutuhan menghilangkan lapar, dan merasakan sensasi ragam rasa melalui lidah tak bertulang milik kita, namun juga berkaitan dengan identitas diri kita. Kepada seorang sastrawan, kita bisa mengatakan identitas kepengarangannya dibentuk dari “apa yang dia tulis”. Jika seorang sastrawan tertarik menulis ihwal kuliner dalam karya-karyanya, maka kita dapat menelusuri identitas kultural sang sastrawan dan melontarkan pertanyaan untuk dijawab: Khazanah boga apa yang sang sastrawan gambarkan dalam karangannya serta apa kaitan kuliner tersebut dengan relasi sosial dan konstruksi identitas yang ingin dibangunnya?

Silahkan lihat versi lengkap artikel ini dalam file pdf berikut ini:

MAKANAN, RELASI SOSIAL, DAN IDENTITAS-artikel Yusri Fajar-di Majalah Basis 2017

Yusri Fajar-Juara 2

Konflik Masyarakat Multikultural di Mata Sastrawan

Oleh Yusri Fajar
(Cerpenis dan Dosen FIB UB)

(DIMUAT DALAM KORAN KOMPAS, 18 Maret 2017)

Artikel di koran KOMPAS-Yusri Fajar

Masyarakat multikultural dengan pluralitas identitas dan etnisitas sering direpresentasikan dalam karya sastra. Narasi ketegangan dan kedamaian diartikulasikan oleh para sastrawan sebagai hasil pengamatan terhadap konstalasi dan dinamika manusia yang dipenuhi perpecahan di satu sisi, dan kebersamaan serta kerukunan di sisi lainnya. Konflik berlatar perbedaan etnik, agama dan aliran kepercayaan, stratifikasi sosial dan kepentingan ekonomi yang menginsipirasi dan menjadi pilihan tematik beberapa sastrawan menunjukkan kritik para sastrawan terhadap ketidakmampuan menerima perbedaan. Sementara, kerukunan di tengah perbedaan dikisahkan sastrawan untuk merepresentasikan harmoni sebagai dampak toleransi dan negosiasi antar budaya yang bisa dengan baik dilakukan. Pada konteks ini karya-karya sastra menjadi medium menyuarakan dan mengingatkan kebhinekaan, menyemaikan arti toleransi, dan menjadi jembatan yang menghubungkan pemikiran serta sikap kritis sastrawan dengan publik.
Berbagai alasan dalam mengangkat lanskap kontestasi perbedaan dan relasi mutual antar individu dan kelompok masyarakat dalam karya sastra bisa didorong berbagai alasan, seperti ketertarikan atas peristiwa itu, upaya membangun kepedulian, motivasi memberikan pencerahan, kepentingan dokumentasi tekstual, hingga dorongan mendiseminasikan situasi sosio-kultural Indonesia ke pembaca lokal, nasional dan internasional. Di tengah perbedaan-perbedaan dalam masyarakat, posisi sastrawan dipertanyakan. Sebagai bagian dari anggota masyarakat tertentu, sastrawan seringkali menyandang identitas dari habitat di mana ia tumbuh dan berkembang.

Konflik Kultural, Kepercayaan dan Etnik

Dalam kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu (2015) cerpenis Damhuri Muhammad, menggambarkan perbedaan cara pandang anggota masyarakat yang di satu pihak ingin mempertahankan nilai-nilai tradisional, sementara di pihak lain ada kelompok yang bersikeras mendorong pembangunan berdasarkan nilai-nilai modern yang berakar pada budaya industri yang identik dengan komodifikasi materi dan komersialiasi serta logika. Konflik budaya yang dipicu oleh perbedaan pendapat antara anggota masyarakat yang teguh dan terkesan kolot dengan tradisi dengan mereka yang berpendidikan tinggi mencerminkan pegulatan tradisi dan modernisasi.
Dalam relasi antar etnik yang lebih luas di tengah konstruksi multikuturalisme, yang bagi Parekh mencerminkan keragaman budaya di mana perbedaan menjadi entitas tak ternegasikan di dalamnya (2000), sikap menghargai dan menerima perbedaan bisa hilang karena rasa superioritas dan primordialisme berlebihan. Representasi oposisi kultural dalam bangsa dengan etnik beragam (polyethnic nation) yang memunculkan konflik sosial, misalnya terlihat dalam novel karya Hamka Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Balai Pustaka, edisi 2014) yang telah difilmkan dan mendapat sambutan hangat dari publik. Kontestasi budaya dalam novel ini muncul karena perbedaan dua kelompok etnik yaitu Minangkabau (Sumbar) dan Bugis (Makasar). Zainuddin sang tokoh utama terlahir dari seorang ibu asli Bugis Makasar dan ayah asli Minangkabau Padang. Posisi Zainuddin yang hibrid menyebabkan dia memiliki dua identitas (double-identity). Ironisnya, Zainuddin dianggap tidak secara utuh bisa menyandang identitas Minang dan juga Bugis.
Baik Damhuri dan Buya Hamka melalui karya mereka di atas sebenarnya tengah mengkritik primordialisme dan beberapa doktrin tradisional yang gagal mengakomodasi kesetaraan, pluralitas, dan cara pandang universal sehingga konflik terjadi. Namun demikian, keduanya juga secara objektif tak serta merta mendukung cara masyarakat modern mengonstruksi identitas mereka. Hamka menghadirkan potret ironi beberapa warga Minang yang melakukan mimikri tradisi penjajah Belanda, sementara Damhuri mengkritik tajam komersialisasi yang menegasikan nilai-nilai sakral yang masih relevan.
Novelis Okky Mandasari dalam novelnya “Maryam” (2012) menyuarakan perbedaan berlatar perbedaan aliran dalam agama. Novel yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris ini tentu berpotensi membuka ruang keterbacaan luas di kalangan pecinta sastra. Okky mengangkat fenomena konflik penganut Ahmadiyah dengan kelompok yang seringkali menyebut diri mereka ahlusunnahwaljamaah. Isu toleransi dan keberagaman mendapat sorotan tajam dalam novel ini. Okky menggambarkan tindakan diskriminatif dan represif yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap penganut Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat. Pengusiran dan pemberian stereotip ‘sesat’, ‘menyimpang’ pada penganutAhmadiyah dan tindakan perusakan dan pembakaran dilakukan. Secara implisit narasi besar yang dibangun dan disuarakan dalam karya sastra ini adalah pentingnya toleransi yang menjunjung tinggi keberagaman. Masyarakat Nusa Tenggara Barat dan Indonesia perlu membaca fenomena yang terjadi dalam lingkungannya melalui novel Maryam, bukan untuk membuka luka lama dan memahatkan aib karena telah melukai keberagaman, namun untuk belajar agar kejadian sebagaimana tergambar dalam novel ini tak kembali terulang. Dalam pernyataannya sebagaimana dikutip oleh BBC Indonesia, Okky menegaskan,”sejak awal saya percaya bahwa karya sastra itu seharusnya bisa menyuarakan persoalan-persoalan dalam masyarakat.” (BBC Indonesia, 6 April 2015). Pergolakan, ketegangan dan situasi tak kondusif karena konflik berlatar kepercayaan dengan demikian menjadi perhatian Okky. Meskipun ia juga percaya bahwa karya sastra yang memiliki semangat anti-diskriminasi tak serta menghentikan tindakan diskriminatif tersebut.
Sementara perbedaan etnik yang memunculkan peristiwa tragis mendapat perhatian cerpenis asal Madura. Mahwi Air Tawar, dalam buku kumpulan cerpennya ‘Karapan Laut’. Dalam salah satu cerpen yang ada di dalamnya ‘Janji Laut’, Mahwi menarasikan keterusiran dan aleniasi anak manusia akibat konflik horisontal yang pernah melibatkan etnis Madura dan Dayak di Kalimantan. Konflik ini menyisakan luka dan trauma mendalam. Konflik yang tentu mestinya tak diharapkan meledak, karena kedua kelompok etnik ini telah lama hidup berdampingan. Dua tokoh berbeda asal muasal yaitu Tarebung dari Madura dan Ne’ Tatri telah membangun cinta melalui pernikahan mereka. Sepanjang dalam perjalanan mengungsi, sebagaimana diceritakan Mahwi,“Ne Tatri tak henti-hentinya mengutuk peristiwa babunuhan antara orang-orang tanah kelahirannya dan orang-orang tempat suaminya berasal” (Mahwi, 2014). Tatri sungguh tak menginginkan perbedaan budaya memicu tragedi. Melalui cerpen ini, khususnya melalui dua tokoh yaitu Tarebung dan Ne’ Tatri, Mahwi menyuarakan harmoni dalam masyarakat plural dan menolak konflik horisontal.
Representasi berbagai peristiwa dalam masyarakat multikultural yang kadang menyedihkan dan juga membahagiakan menunjukkan kepekaan dan kepedulian para sastrawan dalam menyuarakan keberagaman. Kepedulian sekaligus kegelisahan atas berbagai peristiwa tersebut mendorong sastrawan melakukan pengamatan sehingga karya-karya yang ia tulis memiliki dimensi sosial budaya. Karya sastra yang menunjukkan kepedulian atas fenomena perbedaan kultural menempatkan karya sastra tersebut berada di tengah dinamika yang terjadi, menjadi sumber bacaan dan inspirasi terbentuknya masyarakat multikultural yang harmonis dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Pengarang dan Bayang-Bayang Kenangan dalam Kumcer “Reruntuhan Musim Dingin” Karya Sungging Raga Dan “Tuhan tidak Makan Ikan” karya Gunawan Tri Atmodjo (Author and Shadow of Memories in Collection of Short Stories “The Fall of Winter” by Sungging Raga and “God doesn’t Eat Fish” by Gunawan Tri Atmodjo)

Oleh Yusri Fajar

Jika sebuah buku telah sampai di tangan pembaca, dengan (si)apakah pembaca sesungguhnya berhadapan? Dengan karya yang telah pengarang ciptakan atau dengan pengarangnya? Karya dan pengarangnya seringkali tak bisa dipisahkan. Pengarang atau pada konteks ini sebutlah sastrawan seringkali dengan kesadarannya menarasikan bagian dari pengalaman, kenangan, dan kecenderungan pemikirannya di dalam karyanya. Ia ingin mengabadikan tidak hanya apa yang ia baca, lihat, namun mungkin juga diri dan jalan hidup yang dilintasinya. Sastrawan sadar akan jalan hidupnya dan berbagai lika-liku proses kreatifnya, dan disadari atau tidak turut mendorong pengungkapan dunia pengarang dalam karangannya serta berbagai kenangan yang berhasil direkam dan diolahnya. Seringkali, sastrawan juga menciptakan (mengada-adakan) kenangan dalam cerita yang dituturkannya sebagai bagian dari teknik untuk memasukkan tokoh-tokohnya ke dalam masa lampau.

Kenangan dalam teknik penceritaan bisa digunakan sebagai pembentuk alur mundur. Kenangan menjadi pintu untuk menguak tabir kompleksitas perjalanan hidup tokoh-tokoh yang diciptakan di masa lalu, sekaligus membangun kontestasi dan relasi antara masa lalu dan masa depan. Pengarang seringkali menggerakkan ceritanya dengan menciptakan tokoh yang sedang mengenang sesuatu. Dalam kamus kepengarangan Sungging Raga, penulis “Reruntuhan Musim Dingin” (Diva Press, Januari 2016) dan Gunawan Tri Atmodjo, penulis “Tuhan tidak Makan Ikan” (Diva Press, Mei 2016), barangkali termaktub kata-kata “jangan lupakan kenangan”, sebagaimana para pengarang lain seperti James Joyce, Virginia Woolf, Faulkner, Rimbaud dan Paz yang juga seringkali merepresentasikan kenangan atas objek dan peristiwa dalam karya mereka. Baik Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmodjo, dalam beberapa cerpen mereka, menggambarkan tokoh yang sedang mengenang masa lalunya kemudian membawa kenangan itu sebagai bahan menciptakan tikungan, perbandingan dengan masa kini dan ketegangan-ketegangan.

(Selengkapnya tulisan ini bisa dibaca dalam buku “SASTRA YANG MELINTASI BATAS DAN IDENTITAS, penerbit Basabasi, April 2017)

http://blogdivapress.com/dvp/sastra-yang-melintasi-batas-dan-identitas/

https://www.goodreads.com/book/show/34875157-sastra-yang-melintasi-batas-dan-identitas

Narasi Eksil dan Diaspora Indonesia di Eropa dalam Kumcer “Lelaki Pencari Langit” Karya Soeprijadi Tomodihardjo (Narrative of Exile and Indonesian Diaspora in Collection of Short Stories “A Man Searching for the Sky” by Soeprijadi Tomodihardjo)

 

Oleh Yusri Fajar

Bisakah orang yang telah meninggalkan kampung halamannya dan menetap di negara lain menghapuskan tanah kelahirannya dari ingatannya? Mampukah dia mengeluarkan rasa kebangsaan dan kecintaan pada Indonesia dari lubang hatinya? Bagaimanakah mereka berjuang dan bertahan untuk hidup di negeri asing? Pertanyaan-pertanyaan ini bermunculan ketika saya mengarungi fenomena orang-orang yang melintasi batas antar bangsa dan menetap di luar negaranya dan ketika membaca karya-karya sastra yang menceritakan tentang fenomena ini…

Posisi Soeprijadi yang menetap di Eropa juga membuatnya tak mudah mengingat kehidupannya di Indonesia sebagai tanah air sejati (true homeland). Dengan menarasikan kenangan, Soeprijadi berusaha mengklaim identitas Indonesianya, meski dia harus menegosiasikan identitas tersebut di Eropa, di mana dia sekarang tinggal dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Dengan menuliskan cerita-cerita yang banyak mengisahkan kehidupan eksil Indonesia di Eropa, Soeprijadi menegaskan sekaligus mengindentifikasi dirinya sebagai bagian yang masih tak bisa terpisah dari tanah kelahirannya. Ia mengimajinasikan dan merekonstruksi memorinya atas Indonesia dalam pikiran dan cerita yang ia tuturkan.

(Selengkapnya tulisan ini bisa dibaca dalam buku “SASTRA YANG MELINTASI BATAS DAN IDENTITAS, penerbit Basabasi, April 2017)

http://blogdivapress.com/dvp/sastra-yang-melintasi-batas-dan-identitas/

https://www.goodreads.com/book/show/34875157-sastra-yang-melintasi-batas-dan-identitas